Pemuda Pemudi Negeriku...
Teruslah belajar untuk kemajuan bangsamu
Gapailah cita-cita nan tinggi itu
Menjulang sampai ke langit ke-7
Pemuda Pemudi Negeriku...
Tuntutlah cakrawala ilmu sampai ke ujung dunia
Karena engkau tidak akan pernah tahu
Perang pemikiran yang akan terus melanda sewaktu-waktu
Pemuda Pemudi Negeriku...
Jangan menyerah dan putus asa dalam mewujudkan impianmu
Teruslah berusaha dan dongkrak semangatmu
Pemuda Pemudi Negeriku...
Jangan berharap dengan yang lain
Karena yang rela berkorban itu hanya dapat dihitung dengan bilangan
Pemuda Pemudi Negeriku...
Inilah saatnya... Bangkit dan berbuatlah
Jangan engkau terlena ataupun lengah
Pemuda Pemudi Negeriku...
Lakukanlah apa yang engkau mampu
Karena hari ini belum tentu sama dengan hari esok
Maka, jangan izinkan penyeselan datang memberontak
Hingga membuat Negerimu semakin terpuruk
Pemuda Pemudi Negeriku...
Nasib bangsa ini sekarang ada pada genggaman kalian
Ya kalian... Karena kalian adalah cahaya bangsa
Oleh sebabnya sinar kalian selalu dinanti
Untuk terus dapat menerangi negeri Indonesia ini...
#SelamatHariPendidikanNasional
#2Mei2017
#SalamCerdas
#Puisi
http://www.satubahasa.com/2017/05/kumpulan-puisi-tentang-pendidikan-terbaru.html?m=1
Nuun, Wal Qolami Wamaa Yasthuruun, yang berarti: Nun, demi pena dan apa yang dituliskannya. (qs.al-Qalam:1-2) "Tangan hidup dan terus menulis, menulis lagi. Iman dan akalmu tak mungkin akan membuatnya berhenti walau setengah barispun. Tak jua tangismu satu kata kau tersisih (Jalaluddin Rumi)
Selasa, 02 Mei 2017
Sabtu, 25 Maret 2017
Hikmah di Balik Sakit Menurut Islam
Sakit!!! Kata ini sangat pendek. Tapi nggak sependek badan gue ya. Karena masih tinggian gue darinya :v #Eh? Hehe. Yappp bener sekali kata “sakit” ini bagaikan musuh bagi orang-orang yang enggan ia hampirin. Saat mendengar kata ini kebanyakan orang sangat takut apabila ia telah membayang-bayangi si pemilik tubuh. Wahhh sebegitunyakah perawakan pendek dari kata sakit ini, justru membuat orang takut??? 😮 Ahhh gue rasa itu manusianya aje yang terlalu lebay. Hhiii #pisss
Akhir-akhir ini banyak sekali gue dapatkan kabar tentang orang-orang yang sakit. Baik dari lingkungan rumah, anak teman kerja gue (ceileeehhh udeh kerja ni yen? :D… Hmmmm#^$*@^@*#*-_\), keluarga, teman dan di media sosial pun ada berita dari publik figur, juga dari kalangan pejabat negara. Berita-berita orang sakit itu sering sekali gue dapati. Terlebih lagi dengan diri ini sendiri, sudah seminggu ini gue ngerasain badan agak kurang fit (widihhh curhat bukkk…) hehe. Nggak juga sih 😀
Banyak yang mengeluh di saat sakit datang. Apakah lo salah satunya??? Kira-kira seperti inilah dumelannya :3 “Mengapa sakit ini harus aku yang alami?”, “Kenapa sakit ini tidak sembuh juga…?”, “Yaaa Allah tolong aku, aku sudah tidak kuat dengan penyakit ku ini…”, “Tuhan.. Cabut saja nyawa gue jika penyakit ini nggak sembuh-sembuh juga…” Wahhhh sadis bener perkataan yang terkahir ini, masa minta di cabutin nyawanye sama Allah… Astaghfirullah…
Gaesss, kita ini memang milik Allah. Saat Allah telah menakdirkan kita untuk pergi dari duniaNya. Ya, mudah saja bagi Allah menugaskan malaikat pencabut nyawa untuk mengambil ruh kita dan membiarkan jasad kita terbujur kaku. Tapi kalau kata Allah belum waktunya kita pergi dari dunia ini, separah apapun penyakit kita. Ya kita tidak akan pergi dari dunia ini sampai Allah bener-bener menakdirkan kita untuk pergi nantinya. Bro n sist perlu di inget, hidup dan mati kita itu adalah takdir Allah, sudah di catat di lauhul mahfuz saat pertama kita baru akan hadir di dalam kandungan ibunda. Hidup, mati, rezeki, jodoh dan perkara-perkara lainnya yang terjadi pada kita itu, semuanya kita sudah buat kontrak sama Allah…(Mulai serius nih…:D) Ahaha. Kagak juga. 😛
Jadi janganlah mengeluh saat sakit apalagi sampe lo lo pade ngeluari kata yang kagak mengandung hikmah, itu malah akan menjadi doa yang buruk untuk diri kalian sendiri. Kagak bersyukur namanya tuh.
Yuhuuu. Bener sekali… Disaat kita sakit pastilah nafsu makan kita berkurang, nggak ada gairah, raut wajah nggak terbentuk lagi, gue juga sudah ngalaminya, tapi ada suatu hikmah di balik sakitnya kita. Yaitu Allah angkat dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Allah mendatangkan 4 Malaikat untuk menjaga kita saat kita sakit. Kagak percaya??? Nih ada haditsnya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.
Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda:
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.“
Allah Swt. memerintahkan :
Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya, maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke-4, Allah tidak memerintahkannya untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin tersebut.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata: “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”
“Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampai pun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim).
“Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.” (HR Ath-Thabarani).
“Penyakit panas itu menjaga tiap mu’min dari neraka, dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.“(HR Al-Qadha’i).
Nah gaesss. Sakit ini adalah sunatullah loh, ketentuan dari Allah swt. yang ditimpakan pada manusiaNya. Sudah menjadi hukum alam. Malah yang nggak pernah sakit itu yang harusnya khawatir. Karena Alllah nggak berikan bonus terhapusnya dosa-dosanya saat itu. Sedang pada orang yang sakit, Masya Allah… Allah begitu ringan untuk mengampuni dosa-dosanya yang pernah ia perbuat dan mengembalikannya pada fitrah lagi.
Jadi kagak perlu lah kita jadi pengeluh di saat sakit. Tetap sabar, ikhlas dan selalu posisikan diri untuk selalu semangat. Walau kenyataannya nggak semangat, hehe. Tapi kita paksaain tuh diri untuk jadi semangat. Karena gerak kita sesuai dengan keyakinan hati dan mindset kita gaesss. Karena hanya kitalah yang mampu mengendalikan diri kita. Bukan orang lain.
Dalam keadaan sakitpun kita harus tetap bersyukur karena datangnya sakit itu adalah bukti kasih sayang Allah pada kita. Buktinya Allah mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam keadaan sakit. Iya toh? Iyalah… 😀
Penulis & Pengirim: Yeni Herlinda
Follow IG: @yeniherlinda.yh
https://www.lebahmaster.com/hikmah-di-balik-sakit-menurut-islam/Follow IG: @yeniherlinda.yh
Jumat, 24 Maret 2017
Senja Dan Hujan
Senja dan hujan... 2 saat yang begitu bermakna.
Senja selalu hadir di kala sore menjeĺang malam.
Langit terang pun tak dapat mencegah senja utk tetap menampakkan dirinya.
Di kala senja hadir itu menandakan bahwa hari ini akan berganti esok...
Allah memberikan pelajaran secara tak langsung pd manusiaNya utk dpt selalu bersyukur dgn apa yg telah di perolehnya pd hari ini. Serta menyiapkan diri utk hari esok...
Senja juga memberikan makna akan arti kesetiaan.
Mengapa aku katakan begitu? Karena senja akan terus hadir di kala sore menjelang malam.
Itulah bentuk kesetiaannya pada kita.
Agar kita selalu dpt menikmati keindahannya...
Senja tak pernah absen utk hadir menyapa. Meskipun hujan telah menyapa kita lebih dulu...
Hujan pun tak kalah dlm memberikan pesan kehidupan pd kita.
Coba lihat saja butiran-butiran yg jatuh dari langit itu.
Ia hadir memberikan pelajaran tentang keikhlasan pd kita.
Mengapa? Karena hujan hadir utk menenangkan hati dan fikiran kita.
Ia menghibur kita tanpa meminta balasan.
Hujan memberikan air kepada kita dgn cuma2.
Menyirami seluruh hutan2 dan tanah2 tandus kapan saja... Tanpa di minta...
Adakah hujan meminta upah? Tidak.
Kita pun tdk akan mampu utk menyirami hutan2 dan tanah2 tandus yg ada di bumi ini.
Tapi hujan sanggup...
Disinilah hujan mengajarkan kita tentang keikhlasan...
.
.
.
#senja #hujan #keepbersyukur #Allah
IG: @yeniherlinda.yh
Kamis, 12 Mei 2016
Wanita Tangguh
Wanita itu mampu bertahan di dalam kelamnya kehidupan,
Padahal sebenarnya ia menangis.
Wanita itu dapat menyembunyikan kesedihannya apabila berada diantara orang-orang terdekatnya,
Padahal ia begitu sangat membutuhkan sebuah kebahagiaan datang padanya.
Wanita itu selalu tampil dengan senyum dan tawanya,
Padahal ia ingin berteriak sekencang-kencanganya.
Ia memang pantas untuk disebut wanita tangguh
Ia yang selalu tampak tegar.
Meski sulitnya kehidupan selalu datang menerpanya.
Ia yang tak pernah berhenti berjalan dan bergerak,
Walau harus terluka oleh ribuan duri yang tajam.
Ia pun tidak pernah kelihatan sedih atau merintih,
Karena ia yakin bahwa Allah akan selalu ada untuk-Nya.
#Dibuat di awal thn 2013 utk mengikuti event menulis puisi di Anisa, alhamdulillah lolos. Hehe. Soalnya sdh sering ikut lomba menulis puisi dan slalu gagal. Dan ini yg pertama lolos :D
Senin, 04 April 2016
A Miracle Of Allah
Namanya Naira Safira. Ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia mempunyai 1 orang kakak perempuan dan 1 orang kakak laki-laki. Naira anak yang periang, cerdas dan selalu optimis dalam melaksanakan apapun termasuk dalam menjalani kehidupannya. Dan namaku Ayunda Saputri. Aku adalah sahabatnya naira dari kecil dan kedua orang tua kami pun sudah sangat kenal dekat. Aku ingin bercerita tentang sahabat ku naira yang berjuang akan penyakitnya hingga sampai saat ini ia pun masih dapat menghirup udara segar dunia ini. Ku ingat saat aku berumur 8 tahun dan begitu juga dengan naira. Ayah berdialog dengan ibu mengenai naira,
“Buk, tadi Bagas menelpon ayah katanya tadi sore menjelang magrib anaknya naira kembali masuk ke rumah sakit.” Ujar ayah.
“Loh kenapa? Sakit apa naira?” tanya ibu pada ayah.
“Ayah juga nggak tahu buk. Tadi bagas hanya bilang kalau naira masuk rumah sakit dan memberi tahu kalau naira di bawa ke rumah sakit Medica. Ayo sekarang kita siap-siap buk dan langsung berangkat ke rumah sakit buk.” Kata ayah pada ibu.
“O iya yah, ibu siap-siap bentar. Tapi yah ayunda gimana, mau di tinggal atau di ajak?”
Tidak lama dari ibu berbicara kepada ayah, dan ayah pun belum sempat menjawabnya. Aku yang dari tadi sudah mendengarkan percakapan mereka lalu langsung beranjak pergi ke ruang tamu, dan berkata “Yah, buk, ayunda ingin ikut jenguk naira.”. Ibu dan ayah langsung saling melihat, lalu ibu bilang pada ku dengan tersenyum“Oya boleh. Ayunda boleh ikut. Ambil jaketnya gih...”. Aku pun langsung ke kamar untuk mengambil jaket agar tidak kedinginan. Dan ayah sudah di garasi untuk memanaskan mobil. Tak lama dari itu kami langsung berangkat menuju rumah sakit.
1 jam menempuh perjalanan akhirnya kami pun sampai di rumah sakit. Di hantar oleh suster kami ke ruangan naira. Ternyata saat ku lihat itu adalah ruang UGD. Lalu ayah langsung menemui om bagas papanya naira.
“Gas, naira sakit apa?” tanya ayah pada om bagas.
“Tadi sore habis mandi ia terkapar di depan pintu kamar mandi saat mamanya mengecek kamarnya, mamanya kaget dan langsung teriak memanggilku. Naira sempat berbicara katanya kakinya sakit dan terasa sangat sesak nafasnya setelah itu ia pingsan. Jadi langsung saja aku dan mamanya membawanya ke rumah sakit. Ternyata penyakitnya saat masih bayi dulu kembali lagi dit. Jantung lemahnya. Ini dikarenakan aku yang menurunkannya, kamu tahu kan kalau aku sudah ada penyakit jantung ini semenjak SMA baru ketahuan. Dan sekarang menular pada anak ku yang paling bungsu, aku sangat tidak menyangka dit. Karena kedua kakaknya tidak. Naira sekarang yang menderita penyakit jantung lemah.” Om bagas pun sangat terpukul dengan keadaan naira.
“Kamu yang sabar gas. Naira akan sembuh insya Allah...” Ujar ayah sambil memegangi pundaknya om bagas. Om bagas pun menunduk dan menangis.
Memang penyakit jantung lemah merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Setiap orang yang menderita penyakit ini ia tidak dapat melakukan aktivitas secara berlebihan, karena akan dapat menimbulkan rasa sakit di dada serta cenderung pingsan.
“Nai......nai....naira ayo bangun, cepat bangun. Biar kita bisa bermain lagi di taman depan rumahmu.” Aku memangil naira dari jendela kamar, sambil menangis. Aku saat itu hanya dapat melihatnya lewat jendela kamar. Karena aku tidak diizinkan masuk waktu itu oleh susternya.
***
Keesokan harinya saat di sekolah aku merasa kesepian. Karena naira ada di rumah sakit. Teman-teman juga banyak yang menanyakan naira. Karena kelas terasa sangat sunyi saat naira tidak ada. Biasanya ia selalu menjadi pusat perhatian seisi kelas karena sifat riang dan celotehnya yang membuat semua orang jadi merindukannya.
Siang itu sepulang sekolah aku dan beberapa teman kelasku serta wali kelas ku berencana untuk membesuk naira di rumah sakit. Namun saat itu juga ibu ku sudah ada di depan pagar sekolah. Aku diajak ibu dulu ke butiknya. Jadi nanti aaku kan menyusul dengan ibu. Padahal aku sangat ingin langsung melihat naira. Aku pun langsung naik mobil dengan wajah cemberut. “Sayang, tenang saja. Ibu cuma sebentar, setelah itu kita langsung ke rumah sakit menjenguk naira.” Kata ibu sambil me-starter mobil dan langsung tancap gas.
***
Saat tiba di rumah sakit ternyata teman-teman kelas ku dan wali kelas kami baru saja pulang sekitar 20 menit yang lalu kata mamanya naira. Ibu mengobrol dengan mamanya naira, lalu aku memotong pembicaraan mereka. “Tante aku pengen masuk ke dalam mau lihat naira dari dekat, boleh nggak te?” tanya ku pada mamanya naira. Karena aku sangat ingin masuk dari semalam tapi belum diizinkan karena kondisi naira yang masih kritis. “Boleh sayang, ayunda masuk saja. Yuk kita masuk bareng.” Mamanya naira menghantarkan ku ke tempat naira.
“Nai...... kamu kapan bangunnya? Aku kesepian nai di sekolah. Nggak ada teman. Ayo nai kamu cepatan bangun.” Aku memegang tangan naira, tapi tetap saja naira belum juga sadar. Aku pun membawakan naira gambaran ku pas di sekolah tadi, aku menggambar diri naira dan aku yang sedang duduk di taman sambil melihat indahnya pelangi. Lalu ku letakkan ditangan naira. “Yaa Allah tolong sembuhkan naira. Ayunda sangat menyayangi naira. Ayunda pengen lihat senyum naira lagi. Tolong sembuhkan naira ya Allah.” Aku berdoa dalam hati. Kemudian ibu mendekati ku dan mengajakku untuk pulang karena hari pun sudah petang. Aku pun pamit pulang dengan naira. "Nai... aku pulang dulu ya. Aku akan kembali besok.”
***
Setelah 5 hari berada di rumah sakit tepatnya di hari ke-5 itu. Barulah naira siuman dari komanya. Alhamdulillah... Semua yang ada di ruangan itu termasuk aku sangat senang dan tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Allah SWT. “Terimakasih ya Allah...” batinku berkata. Aku langsung mendekat naira, dan naira pun tersenyum melihat gambaran ku yang sekarang ada di tangannya dan ia telah melihatnya. “Aku yakin nai kamu pasti akan sadar, karena Allah sayang denganmu. Dan kamu akan tetap bertahan hidup untuk selamanya. Kan kita sahabat untuk selamanya.” Aku berkata pada naira sambil tersenyum dan memegang tangannya.
***
Dari tahun ke tahun naira menunjukan progress yang sangat baik. Ia semakin sehat dan sudah jarang bolak-balik ke rumah sakit. Semangatnya untuk hidup sangat kuat. Bahkan ia suka mengajakku untul ikut dalam berbagai kegiatan sosial. Naira memang suka membantu sesama. Aku teringat saa SMP dulu. Ada teman yang belum bisa bayar iuran sekolahnya. Tapi, naira punya inisiatif untuk mengajak kami patungan, dan juga membantu si teman tadi untuk bercerita pada wali kelas, alhasil si teman tadi mendapatkan bantuan subsidi dari sekolah sampai kelulusan kelas 3. Itulah yang membuat ku salut pada naira. Namun saat ia menginjak kelas 2 SMP. Om bagas papanya naira meninggal dunia karena penyakit jantungnya yang sudah terlalu akut hingga akhirnya tidak dapat di selamatkan. Sempat naira merasa benar-benar terpukul akan kejadian itu. Namun ia juga sudah dapat mengikhlaskan kepergian papanya setelah 1 bulan berlalu.
***
Ketika pengumuman UN. Aku dan naira lulus dan dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan saat masuk SMA, kami berdua tidak lagi mengikuti tes masuk seperti siswa/i yang lainnya. Kami lulus tes jalur PMDK. Jadi tidak perlu untuk tes lagi. Sungguh kami sangat senang sekali dapat bertemu lagi sampai ke jenjang SMA.
Hari demi hari pun kami lalui di sekolah kami yang baru. Seragam sekolah yang baru. Dan pastinya teman-teman yang baru pula. Saat di SMA naira benar-benar sangat membaik, bahkan ia pun sudah jarang mengkonsumsi obatan-obatan yang biasanya ia minum. Saat ku tanya “nai, kamu nggak lagi minum obatnya ya? Koq sudah 2 hari ini aku nggak lihat kamu meminumnya saat jam istirahat.” Tanyaku heran padanya. “Hehe... iya ay aku nggak lagi meminumnya. Aku juga sudah capek terus-terusan minum butiran-butiran pil itu. Aku pengen sembuh secara alami tanpa harus ada obat-obatan dan rumah sakit.” Dengan enteng dan tersenyum ia menjawab. “Tapi nai.........”, belum sempat aku melanjutkan kalimatku, naira langsung memotongnya. “Heee. Aku tahu ay apa yang ingin kamu katakan. Tenang saja, insya Allah aku baik koq, kamu doain aku terus ya, semoga tetap selalu sehat, kan kata mu sendiri waktu 7 tahun yang lalu saat aku terbaring dirumah sakit. Bahwa kita akan selalu terus bersama karena kita adalah sahabat untuk selamanya... Iya kan ay?” Ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat alisnya sebelah kanan, sembari merangkul pundak ku.
***
Naira tetap pada sikap cerianya, ramah dan selalu tersenyum. Penyakit jantungnya yang lemah itu sepertinya sudah benar-benar menghilang dari dirinya. Ia benar-benar bangkit dari masa-masa terpuruknya dulu, yang sempat di vonis oleh dokter kalau hidupnya hanya akan bertahan sebentar. Namun dengan tekadnya yang selalu berusaha untuk membuat dirinya sehat selalu. Mungkin inilah yang disebut dengan A Miracle Of Allah. Sebuah keajaiban yang berasal dari Allah SWT. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sekarang ia sangat menikmati hidupnya dan selalu membuat mama dan kakak-kakaknya bangga akan prestasi yang di tonjolkannya. Ia juga pernah mendapatkan beasiswa S2 di Malaysia. Sekarang ia menjadi salah satu dosen di UI tepat kami kuliah dulu, dan juga sekarang ia lagi tahap penyelesaian gelar doktornya di Universitas Surabaya. Naira yang ku kenal dari dulu sampai sekarang adalah sosok yang mempunyai sikap optimis. Aku pun sangat senang sekali menjadi sahabatnya dan ia juga telah memberikan ku banyak pelajaran tentang bagaimana menjalankan hidup dengan semestinya. Ia pun menjadi inspirasi bagi ku sampai kapanpun. J
#tulisan dibuat awal thn ini (2016), diikut sertakan dlm event antologi BML
“Buk, tadi Bagas menelpon ayah katanya tadi sore menjelang magrib anaknya naira kembali masuk ke rumah sakit.” Ujar ayah.
“Loh kenapa? Sakit apa naira?” tanya ibu pada ayah.
“Ayah juga nggak tahu buk. Tadi bagas hanya bilang kalau naira masuk rumah sakit dan memberi tahu kalau naira di bawa ke rumah sakit Medica. Ayo sekarang kita siap-siap buk dan langsung berangkat ke rumah sakit buk.” Kata ayah pada ibu.
“O iya yah, ibu siap-siap bentar. Tapi yah ayunda gimana, mau di tinggal atau di ajak?”
Tidak lama dari ibu berbicara kepada ayah, dan ayah pun belum sempat menjawabnya. Aku yang dari tadi sudah mendengarkan percakapan mereka lalu langsung beranjak pergi ke ruang tamu, dan berkata “Yah, buk, ayunda ingin ikut jenguk naira.”. Ibu dan ayah langsung saling melihat, lalu ibu bilang pada ku dengan tersenyum“Oya boleh. Ayunda boleh ikut. Ambil jaketnya gih...”. Aku pun langsung ke kamar untuk mengambil jaket agar tidak kedinginan. Dan ayah sudah di garasi untuk memanaskan mobil. Tak lama dari itu kami langsung berangkat menuju rumah sakit.
1 jam menempuh perjalanan akhirnya kami pun sampai di rumah sakit. Di hantar oleh suster kami ke ruangan naira. Ternyata saat ku lihat itu adalah ruang UGD. Lalu ayah langsung menemui om bagas papanya naira.
“Gas, naira sakit apa?” tanya ayah pada om bagas.
“Tadi sore habis mandi ia terkapar di depan pintu kamar mandi saat mamanya mengecek kamarnya, mamanya kaget dan langsung teriak memanggilku. Naira sempat berbicara katanya kakinya sakit dan terasa sangat sesak nafasnya setelah itu ia pingsan. Jadi langsung saja aku dan mamanya membawanya ke rumah sakit. Ternyata penyakitnya saat masih bayi dulu kembali lagi dit. Jantung lemahnya. Ini dikarenakan aku yang menurunkannya, kamu tahu kan kalau aku sudah ada penyakit jantung ini semenjak SMA baru ketahuan. Dan sekarang menular pada anak ku yang paling bungsu, aku sangat tidak menyangka dit. Karena kedua kakaknya tidak. Naira sekarang yang menderita penyakit jantung lemah.” Om bagas pun sangat terpukul dengan keadaan naira.
“Kamu yang sabar gas. Naira akan sembuh insya Allah...” Ujar ayah sambil memegangi pundaknya om bagas. Om bagas pun menunduk dan menangis.
Memang penyakit jantung lemah merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Setiap orang yang menderita penyakit ini ia tidak dapat melakukan aktivitas secara berlebihan, karena akan dapat menimbulkan rasa sakit di dada serta cenderung pingsan.
“Nai......nai....naira ayo bangun, cepat bangun. Biar kita bisa bermain lagi di taman depan rumahmu.” Aku memangil naira dari jendela kamar, sambil menangis. Aku saat itu hanya dapat melihatnya lewat jendela kamar. Karena aku tidak diizinkan masuk waktu itu oleh susternya.
***
Keesokan harinya saat di sekolah aku merasa kesepian. Karena naira ada di rumah sakit. Teman-teman juga banyak yang menanyakan naira. Karena kelas terasa sangat sunyi saat naira tidak ada. Biasanya ia selalu menjadi pusat perhatian seisi kelas karena sifat riang dan celotehnya yang membuat semua orang jadi merindukannya.
Siang itu sepulang sekolah aku dan beberapa teman kelasku serta wali kelas ku berencana untuk membesuk naira di rumah sakit. Namun saat itu juga ibu ku sudah ada di depan pagar sekolah. Aku diajak ibu dulu ke butiknya. Jadi nanti aaku kan menyusul dengan ibu. Padahal aku sangat ingin langsung melihat naira. Aku pun langsung naik mobil dengan wajah cemberut. “Sayang, tenang saja. Ibu cuma sebentar, setelah itu kita langsung ke rumah sakit menjenguk naira.” Kata ibu sambil me-starter mobil dan langsung tancap gas.
***
Saat tiba di rumah sakit ternyata teman-teman kelas ku dan wali kelas kami baru saja pulang sekitar 20 menit yang lalu kata mamanya naira. Ibu mengobrol dengan mamanya naira, lalu aku memotong pembicaraan mereka. “Tante aku pengen masuk ke dalam mau lihat naira dari dekat, boleh nggak te?” tanya ku pada mamanya naira. Karena aku sangat ingin masuk dari semalam tapi belum diizinkan karena kondisi naira yang masih kritis. “Boleh sayang, ayunda masuk saja. Yuk kita masuk bareng.” Mamanya naira menghantarkan ku ke tempat naira.
“Nai...... kamu kapan bangunnya? Aku kesepian nai di sekolah. Nggak ada teman. Ayo nai kamu cepatan bangun.” Aku memegang tangan naira, tapi tetap saja naira belum juga sadar. Aku pun membawakan naira gambaran ku pas di sekolah tadi, aku menggambar diri naira dan aku yang sedang duduk di taman sambil melihat indahnya pelangi. Lalu ku letakkan ditangan naira. “Yaa Allah tolong sembuhkan naira. Ayunda sangat menyayangi naira. Ayunda pengen lihat senyum naira lagi. Tolong sembuhkan naira ya Allah.” Aku berdoa dalam hati. Kemudian ibu mendekati ku dan mengajakku untuk pulang karena hari pun sudah petang. Aku pun pamit pulang dengan naira. "Nai... aku pulang dulu ya. Aku akan kembali besok.”
***
Setelah 5 hari berada di rumah sakit tepatnya di hari ke-5 itu. Barulah naira siuman dari komanya. Alhamdulillah... Semua yang ada di ruangan itu termasuk aku sangat senang dan tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Allah SWT. “Terimakasih ya Allah...” batinku berkata. Aku langsung mendekat naira, dan naira pun tersenyum melihat gambaran ku yang sekarang ada di tangannya dan ia telah melihatnya. “Aku yakin nai kamu pasti akan sadar, karena Allah sayang denganmu. Dan kamu akan tetap bertahan hidup untuk selamanya. Kan kita sahabat untuk selamanya.” Aku berkata pada naira sambil tersenyum dan memegang tangannya.
***
Dari tahun ke tahun naira menunjukan progress yang sangat baik. Ia semakin sehat dan sudah jarang bolak-balik ke rumah sakit. Semangatnya untuk hidup sangat kuat. Bahkan ia suka mengajakku untul ikut dalam berbagai kegiatan sosial. Naira memang suka membantu sesama. Aku teringat saa SMP dulu. Ada teman yang belum bisa bayar iuran sekolahnya. Tapi, naira punya inisiatif untuk mengajak kami patungan, dan juga membantu si teman tadi untuk bercerita pada wali kelas, alhasil si teman tadi mendapatkan bantuan subsidi dari sekolah sampai kelulusan kelas 3. Itulah yang membuat ku salut pada naira. Namun saat ia menginjak kelas 2 SMP. Om bagas papanya naira meninggal dunia karena penyakit jantungnya yang sudah terlalu akut hingga akhirnya tidak dapat di selamatkan. Sempat naira merasa benar-benar terpukul akan kejadian itu. Namun ia juga sudah dapat mengikhlaskan kepergian papanya setelah 1 bulan berlalu.
***
Ketika pengumuman UN. Aku dan naira lulus dan dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan saat masuk SMA, kami berdua tidak lagi mengikuti tes masuk seperti siswa/i yang lainnya. Kami lulus tes jalur PMDK. Jadi tidak perlu untuk tes lagi. Sungguh kami sangat senang sekali dapat bertemu lagi sampai ke jenjang SMA.
Hari demi hari pun kami lalui di sekolah kami yang baru. Seragam sekolah yang baru. Dan pastinya teman-teman yang baru pula. Saat di SMA naira benar-benar sangat membaik, bahkan ia pun sudah jarang mengkonsumsi obatan-obatan yang biasanya ia minum. Saat ku tanya “nai, kamu nggak lagi minum obatnya ya? Koq sudah 2 hari ini aku nggak lihat kamu meminumnya saat jam istirahat.” Tanyaku heran padanya. “Hehe... iya ay aku nggak lagi meminumnya. Aku juga sudah capek terus-terusan minum butiran-butiran pil itu. Aku pengen sembuh secara alami tanpa harus ada obat-obatan dan rumah sakit.” Dengan enteng dan tersenyum ia menjawab. “Tapi nai.........”, belum sempat aku melanjutkan kalimatku, naira langsung memotongnya. “Heee. Aku tahu ay apa yang ingin kamu katakan. Tenang saja, insya Allah aku baik koq, kamu doain aku terus ya, semoga tetap selalu sehat, kan kata mu sendiri waktu 7 tahun yang lalu saat aku terbaring dirumah sakit. Bahwa kita akan selalu terus bersama karena kita adalah sahabat untuk selamanya... Iya kan ay?” Ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat alisnya sebelah kanan, sembari merangkul pundak ku.
***
Naira tetap pada sikap cerianya, ramah dan selalu tersenyum. Penyakit jantungnya yang lemah itu sepertinya sudah benar-benar menghilang dari dirinya. Ia benar-benar bangkit dari masa-masa terpuruknya dulu, yang sempat di vonis oleh dokter kalau hidupnya hanya akan bertahan sebentar. Namun dengan tekadnya yang selalu berusaha untuk membuat dirinya sehat selalu. Mungkin inilah yang disebut dengan A Miracle Of Allah. Sebuah keajaiban yang berasal dari Allah SWT. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sekarang ia sangat menikmati hidupnya dan selalu membuat mama dan kakak-kakaknya bangga akan prestasi yang di tonjolkannya. Ia juga pernah mendapatkan beasiswa S2 di Malaysia. Sekarang ia menjadi salah satu dosen di UI tepat kami kuliah dulu, dan juga sekarang ia lagi tahap penyelesaian gelar doktornya di Universitas Surabaya. Naira yang ku kenal dari dulu sampai sekarang adalah sosok yang mempunyai sikap optimis. Aku pun sangat senang sekali menjadi sahabatnya dan ia juga telah memberikan ku banyak pelajaran tentang bagaimana menjalankan hidup dengan semestinya. Ia pun menjadi inspirasi bagi ku sampai kapanpun. J
#tulisan dibuat awal thn ini (2016), diikut sertakan dlm event antologi BML
Membangun CINTA Suci Ba’da Ijab Kabul
(dibuat utk ikut event di gema sastra)
:ngakaksss😆😅
---
#tolong jgn hakimin gue gaesss dgn judul yg tertera. Gue juga heran knp gue bisa nulis kayak ginian, gue saja shocked saat buka note thn 2012 lalu. Dan yg gue nggak nyangka lagi, ni tulisan di loloskan... Mohon maaf lahir batin gaesss, kalau ada persamaan nama tokoh dan alur ceritanya, ini hanya fiktif belaka ✌
:ngakaksss😆😅
---
#tolong jgn hakimin gue gaesss dgn judul yg tertera. Gue juga heran knp gue bisa nulis kayak ginian, gue saja shocked saat buka note thn 2012 lalu. Dan yg gue nggak nyangka lagi, ni tulisan di loloskan... Mohon maaf lahir batin gaesss, kalau ada persamaan nama tokoh dan alur ceritanya, ini hanya fiktif belaka ✌
Tolonggg!!! Jangan Panggil Aku Ukhti
(dibuat untuk mengikuti event antologi GPS)
Semua berawal dari kisahku. Pertama kali aku mendapatkan panggilan ukhti itu dari dunia maya yang tidak lain dan tidak bukan yaitu fesbuk. Kemudian berlanjut ketika diperkuliahan. Hhmmm maklum, tempat kuliah ku itu memang tempat kuliah yang notabennya bergenre kan Islam. Jadi panggilan ukhti itu sudah menjadi panggilan yang tidak asing lagi. Terlebih lagi ketika aku ikut di organisasi yang orang-orangnya memang dapat dikatakan akhwat-akhwat dan ikhwan-ikhwan betolll.
Ya, mungkin memang benar. Ukhti adalah sebutan untuk saudara perempuan muslim (baca: muslimah). Tapi tetap saja aku tidak ingin dipanggil ukhti. Karena, aku merasa bahwa sebutan ukhti ataupun akhwat itu hanya pantas sebutan bagi wanita-wanita yang ilmu agamanya mahir. Atau kurang lebih wanita yang seperti itu lah yang di sebut akhwat. Yang tertanam didalam benakku gambaran seorang akhwat atau ukhti itu adalah wanita yang memakai pakaian tidak ketat atau membentuk tubuh. Pakai rok panjang, no jeans. Jilbab panjang dan tidak dibentuk-bentuk serta tidak tipis. Selalu memakai kaos kaki. Tidak bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya apalagi berbocengan diatas motor. Tidak mengenal yang namanya pacaran. Selalu datang ke masjid. Selalu membawa al quran didalam tasnya. Ketika bertemu orang mengucap salam. Kalau bertemu dengan sesama saudara muslimahnya selalu cipika cipiki. Sholat tepat waktu. Tilawah, dan sebagainya.
Sangat berbeda denganku pada waktu itu. Aku memang telah memakai jilbab namun jilbabku tidak lebar apalagi tebal, masih suka memakai jeans karena saat itu yang ku punya hanya rok sekolah, terkadang masih suka tidak memakai kaos kaki, sholat ku pun masih suka bolong-bolong dan setiap kali diajak untuk sholat berjam’ah pasti ada-ada saja alasan yang ku lontarkan. Aku juga jarang membaca al quran, bahkan untuk menyentuhnya pun aku sangat jarang pada waktu itu. Ketika masih SMA dulu aku juga sering bolos dalam program mentoring yang seharusnya wajib hadir disetiap hari jum’at sepulang sekolah. Kalaupun aku datang, biasanya aku juga tidur-tiduran, atau membuat kondisi mentoring mejadi tidak seperti seharusnya.
Satu-satunya wanita atau akhwat yang belum memakai jilbab dalam organisasi ROHIS (Kerohanian Islam) pada saat di sekolah dulu, hanya aku seorang. Sampai-sampai Bapak guru yang mengajar pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang juga menjadi pembina rohis kami saat itu, serta teman-temanku juga bahkan yang laki-lakinya, selalu membujukku agar aku memakai jilbab dengan perkataan-perkataan mereka salah satunya seperti ini, “Yen,,, kapan ingin hijrah??? Tinggal dirimu sendiri yang belum memakai jilbab”. Wajah ini pun langsung berubah dikarenakan rasa malu.
Namun, tetap saja walaupun sudah di rayu-rayu, hatiku belum tergerak untuk memakai jilbab pada saat itu. Apalagi ketika aku melihat fenomena yang datangnya dari teman-temanku dan adik-adik kelas ku. Mereka ketika disekolah berjilbab rapi, dan ketika sepulang sekolah bahkan ada yang masih didepan gerbang sekolah jilbab itu mereka lepaskan. Ada juga yang memakai pakaian tidak sepantasnya ketika keluar rumah.
Dan sampai pada suatu ketika aku mulai siap untuk memakai jilbab. Aku mulai mengenakan jilbab itu dikelas 3 SMA semester 1, tepatnya seusai ramadhan. Mungkin memang benar semua itu butuh proses dan aku sangat sepakat akan hal itu. Yang pasti aku berjilbab bukan karena bujukan-bujukan dari orang lain. Tapi itu sungguh dari hati dan niat karena Allah SWT. Meskipun jilbabnya belum sempurna, dan syar’i.
Aku sadar bahwa aku ini telah banyak sekali melakukan kesalahan. Aku sering sekali melakukan hal-hal yang semestinya tidak dilakukan oleh para muslimah pada umunya. Seperti bermain bola misalnya. Aku tidak tahu kapan aku ini dapat sadar hingga panggilan ukhti itu memang sungguh-sungguh melekat dan memang aku pantas disebut ukhti. Ahh namun semua itu kembali lagi kepadaku.
Aku berharap semoga Allah dapat secepatnya mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepadaku. Namun aku tidak akan berdiam diri untuk menuggu datangnya hidayah dari Allah itu. Aku akan mengambilnya dari Allah. Semua harus ku lakukan dimulai dari diriku sendiri. Karena didalam firman-Nya pun Allah pun juga telah mengatakan bahwa Allah tidak akan pernah mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak ada usaha untuk merubahnya.
Ingin sekali rasanya aku mengatakan kepada mereka agar tidak memanggil ku “Ukhti”, karena aku memang sangat merasa belum pantas untuk dipanggil dengan sebutan yang sedemikian mulia itu. Aku pun selalu seperti disadarkan bahwa aku terlalu banyak dosa, jika mengingat image seorang ukhti yang sesungguhnya...
---
#tulisan di buat pd thn 2011 untuk di ikutkan di event antologi GPS "first writing"
Semua berawal dari kisahku. Pertama kali aku mendapatkan panggilan ukhti itu dari dunia maya yang tidak lain dan tidak bukan yaitu fesbuk. Kemudian berlanjut ketika diperkuliahan. Hhmmm maklum, tempat kuliah ku itu memang tempat kuliah yang notabennya bergenre kan Islam. Jadi panggilan ukhti itu sudah menjadi panggilan yang tidak asing lagi. Terlebih lagi ketika aku ikut di organisasi yang orang-orangnya memang dapat dikatakan akhwat-akhwat dan ikhwan-ikhwan betolll.
Ya, mungkin memang benar. Ukhti adalah sebutan untuk saudara perempuan muslim (baca: muslimah). Tapi tetap saja aku tidak ingin dipanggil ukhti. Karena, aku merasa bahwa sebutan ukhti ataupun akhwat itu hanya pantas sebutan bagi wanita-wanita yang ilmu agamanya mahir. Atau kurang lebih wanita yang seperti itu lah yang di sebut akhwat. Yang tertanam didalam benakku gambaran seorang akhwat atau ukhti itu adalah wanita yang memakai pakaian tidak ketat atau membentuk tubuh. Pakai rok panjang, no jeans. Jilbab panjang dan tidak dibentuk-bentuk serta tidak tipis. Selalu memakai kaos kaki. Tidak bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya apalagi berbocengan diatas motor. Tidak mengenal yang namanya pacaran. Selalu datang ke masjid. Selalu membawa al quran didalam tasnya. Ketika bertemu orang mengucap salam. Kalau bertemu dengan sesama saudara muslimahnya selalu cipika cipiki. Sholat tepat waktu. Tilawah, dan sebagainya.
Sangat berbeda denganku pada waktu itu. Aku memang telah memakai jilbab namun jilbabku tidak lebar apalagi tebal, masih suka memakai jeans karena saat itu yang ku punya hanya rok sekolah, terkadang masih suka tidak memakai kaos kaki, sholat ku pun masih suka bolong-bolong dan setiap kali diajak untuk sholat berjam’ah pasti ada-ada saja alasan yang ku lontarkan. Aku juga jarang membaca al quran, bahkan untuk menyentuhnya pun aku sangat jarang pada waktu itu. Ketika masih SMA dulu aku juga sering bolos dalam program mentoring yang seharusnya wajib hadir disetiap hari jum’at sepulang sekolah. Kalaupun aku datang, biasanya aku juga tidur-tiduran, atau membuat kondisi mentoring mejadi tidak seperti seharusnya.
Satu-satunya wanita atau akhwat yang belum memakai jilbab dalam organisasi ROHIS (Kerohanian Islam) pada saat di sekolah dulu, hanya aku seorang. Sampai-sampai Bapak guru yang mengajar pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang juga menjadi pembina rohis kami saat itu, serta teman-temanku juga bahkan yang laki-lakinya, selalu membujukku agar aku memakai jilbab dengan perkataan-perkataan mereka salah satunya seperti ini, “Yen,,, kapan ingin hijrah??? Tinggal dirimu sendiri yang belum memakai jilbab”. Wajah ini pun langsung berubah dikarenakan rasa malu.
Namun, tetap saja walaupun sudah di rayu-rayu, hatiku belum tergerak untuk memakai jilbab pada saat itu. Apalagi ketika aku melihat fenomena yang datangnya dari teman-temanku dan adik-adik kelas ku. Mereka ketika disekolah berjilbab rapi, dan ketika sepulang sekolah bahkan ada yang masih didepan gerbang sekolah jilbab itu mereka lepaskan. Ada juga yang memakai pakaian tidak sepantasnya ketika keluar rumah.
Dan sampai pada suatu ketika aku mulai siap untuk memakai jilbab. Aku mulai mengenakan jilbab itu dikelas 3 SMA semester 1, tepatnya seusai ramadhan. Mungkin memang benar semua itu butuh proses dan aku sangat sepakat akan hal itu. Yang pasti aku berjilbab bukan karena bujukan-bujukan dari orang lain. Tapi itu sungguh dari hati dan niat karena Allah SWT. Meskipun jilbabnya belum sempurna, dan syar’i.
Aku sadar bahwa aku ini telah banyak sekali melakukan kesalahan. Aku sering sekali melakukan hal-hal yang semestinya tidak dilakukan oleh para muslimah pada umunya. Seperti bermain bola misalnya. Aku tidak tahu kapan aku ini dapat sadar hingga panggilan ukhti itu memang sungguh-sungguh melekat dan memang aku pantas disebut ukhti. Ahh namun semua itu kembali lagi kepadaku.
Aku berharap semoga Allah dapat secepatnya mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepadaku. Namun aku tidak akan berdiam diri untuk menuggu datangnya hidayah dari Allah itu. Aku akan mengambilnya dari Allah. Semua harus ku lakukan dimulai dari diriku sendiri. Karena didalam firman-Nya pun Allah pun juga telah mengatakan bahwa Allah tidak akan pernah mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak ada usaha untuk merubahnya.
Ingin sekali rasanya aku mengatakan kepada mereka agar tidak memanggil ku “Ukhti”, karena aku memang sangat merasa belum pantas untuk dipanggil dengan sebutan yang sedemikian mulia itu. Aku pun selalu seperti disadarkan bahwa aku terlalu banyak dosa, jika mengingat image seorang ukhti yang sesungguhnya...
---
#tulisan di buat pd thn 2011 untuk di ikutkan di event antologi GPS "first writing"
Langganan:
Postingan (Atom)






