Nuun, Wal Qolami Wamaa Yasthuruun, yang berarti: Nun, demi pena dan apa yang dituliskannya. (qs.al-Qalam:1-2) "Tangan hidup dan terus menulis, menulis lagi. Iman dan akalmu tak mungkin akan membuatnya berhenti walau setengah barispun. Tak jua tangismu satu kata kau tersisih (Jalaluddin Rumi)
Engkau ingin berjuang, Tapi tidak mampu menerima ujian Engkau ingin berjuang, Tapi engkau rosak oleh pujian Engkau ingin berjuang, Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan
Engkau ingin berjuang, Tapi tidak begitu setia kawan Engkau ingin berjuang, Tapi tidak sanggup berkorban Engkau ingin berjuang, Tapi ingin jadi pemimpin Engkau ingin berjuang, Menjadi pengikut agak segan
Engkau ingin berjuang, Tolak ansur engkau tidak amalkan Engkau ingin berjuang, Tapi tidak sanggup menerima cabaran Engkau ingin berjuang, Kesihatan dan kerehatan, Tidak sanggup engkau korbankan Engkau ingin berjuang, Tapi tidak mampu menerima ujian
Engkau ingin berjuang, Tapi engkau rosak oleh pujian Engkau ingin berjuang, Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan, Engkau ingin berjuang, Masa tidak sanggup engkau luangkan
Engkau ingin berjuang, Karenah isteri tidak kau tahan Engkau ingin berjuang, Rumahtangga lintang-pukang Engkau ingin berjuang, Diri engkau tidak engkau tingkatkan
Engkau ingin berjuang, Disiplin diri engkau abaikan Engkau ingin berjuang, Janji kurang engkau tunaikan Engkau ingin berjuang, Kasih sayang engkau cuaikan Engkau ingin berjuang, Tetamu engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, Anak isteri engkau lupakan Engkau ingin berjuang, Ilmu berjuang engkau tinggalkan Engkau ingin berjuang, Kekasaran dan kekerasan engkau amalkan
Engkau ingin berjuang, Pandangan engkau tidak diselaraskan Engkau ingin berjuang, Rasa bertuhan engkau abaikan Engkau ingin berjuang, Iman dan taqwa engkau lupakan
Ya sebenarnya apa yang Engkau hendak perjuangkan...
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 December 2017
Setiap orang berhak merasakan yang namanya cinta. Karena mencinta dan dicintai itu adalah hak bagi setiap insan, baik itu cinta pada keluarga, sahabat, guru, dan lainnya. Itu kata buku yang gue baca, bukan kata gue. Heee. Tapi hati-hati dalam mengekspresikan yang namanya cinta ini yaaa. Kalau salah tempat dan salah dalam mengaplikasikannya bahaya juga loh. Ini juga kata buku yang gue baca.😄
Nah ini juga yang sekarang sedang dialami oleh sahabat gue yang satu ini, namanya Dita. Ya nama lengkapanya yaitu Anindita Mayasari. Dita sekarang lagi dimabuk cinta pada seorang laki-laki, first love katanya. Huahhh.
Dan perkenalkan nama gue Khansa Salsabilah, nama panggilan gue bella.
“Hallo bel…” tiba-tiba saja dita datang menghampiri gue dan menepuk punggung gue, membuat gue terkejut.
“Awww sakit tak… Ahhh lo kebiasaan nih. Kalau datang nggak pake salam dulu kek.” Kata gue dengan wajah sewot dan masih sedikit kesakitan.
“Hehe. Iya… iya. Sorry… Assalamualaikum bella sahabat gue yang cantik nan solehah.” Ucapnya sambil nyengir kuda dan lagaknya merapikan jilbab gue, padahal jilbab gue nggak berantakan.
“Yeaaaa… Waalaikumussalam…” Jawab gue.
Nih orang sudah pasti kalau ngedekatin gue bakalan cerita tentang pacarnya yang bernama wisnu itu. Yukkk kita hitung, 1… 2… 3… Eng ing eng…
“Bel, gue semalam habis dinner dengan wisnu. Wisnu itu orangnya romantis banget bel. Semalam saja dia ngasih gue bunga dan coklat. Huuu so sweet banget bel pokoknya. Gue makin sayang deh sama dia…”
Heee. Udeh gue tebak kan. Pasti akan cerita tentang itu…
“Terussss… Gue harus bilang waw gitu?”
“Ihh bella nggak asik ah. Bete…” Dita dengan nada jengkelnya.
“Hehehe. Nggak… nggak. Ceilehh gitu aja marah. Iya deh iya wisnu emang romantis. tis. tis…” Gurau gue pada dita. Lalu kami pergi ke kantin.
Well, saat di kantin kami melihat ada wisnu juga di situ dengan segerombol teman laki-lakinya. Jelas saja saat melihat kami di kantin, si wisnu pun nyamperin. Tepatnya nyamperin dita
“Yank, pulang nanti bareng ya. Gue tunggu di depan pos satpam. Okeyyy?” Ucap wisnu pada dita, sambil memegang tangan dita.
“Ooo oke nu…” Balas dita tersenyum dan dengan hati yang berbunga-bunga.
“Cieee…” Gue menggoda dita yang masih membayangkan pangeran kodoknya. Uppps…
Tapi, entah mengapa dari awal dita PDKT dengan wisnu. Gue sudah rada nggak suka. Emang sih bisa dikatakan kalau wisnu itu adalah laki-laki terfavorit di sekolah. Banyak kaum hawa yang mengidolakannya, karena kepiawaiannya dalam bermain basket. Eh tapi nggak untuk gue. Gue nggak sama sekali masuk dalam daftar penganggumers wisnu.
Hari demi hari dita dan wisnu mulai menampakan kedekatan mereka berdua secara terang-terangan di sekolah. Sampai-sampai dita banyak dimusuhi oleh teman-teman cewek yang mengagumi wisnu, nggak sedikit juga yang meneror dita lewat sms. Tapi itu nggak membuat hubungan antara dirinya dengan wisnu renggang. Malah nambah semakin dekat. Tapi tetap saja gue sebagai sahabatnya dita nggak suka kalau wisnu jadi pacarnya dita. Hal ini juga sudah pernah gue utarakan dengan dita. Tapi dita tetap saja membela wisnu dan juga tetap menyanjungnya. Gue pun nggak bisa berkata lagi, dan juga nggak ingin jikalau dita merasa gue ikut campur dalam urusan pribadinya terlalu dalam.
Keesokan harinya di pagi hari yang begitu cerah. Sang surya pun telah memancarkan sinarnya, membuat kami pun bersemangat untuk memulai aktivitas di sekolah hari ini.
Saat di gerbang sekolah, gue melihat dita dan wisnu baru turun dari motornya wisnu. Gue yang saat itu tujuannya ingin menunggu dita untuk barengan masuk ke kelas. Ehhh malah mereka lewat aja di depan gue tanpa melihat ni ada orang yang paling cantik n kece. Hhmmmm sebel iya. Tapi mau gimana lagi namanya juga orang yang lagi dimabuk cinta, jadi seolah nih dunia hanya milik mereka berdua. Untung aja lo itu sahabat gue sudah lama tak, kalau nggak… Ya tetap nggak diapa-apain juga sih hehe.
Haaahh. Gue menghela nafas panjang dan langsung menuju kelas.
Sekarang sudah terhitung umur hubungan pacaran mereka berdua telah menginjak usia 1 tahun. Kami pun sudah naik ke kelas XII. Dita pun sudah jarang ada waktu untuk main bareng gue. Gue kangen banget dengan dita yang dulu, yang saat kemana mana pun kami habiskan waktu berdua. Emang sih di sekolah gue ikut organisasi ROHIS (rohani keislaman), di sana banyak juga teman-teman ceweknya. Tapi entahlah, gue tetap merasa sepi tanpa adanya dita. Gue dan dita sudah bersahabatan sejak jaman SMP. Tapi kami selalu beda dalam memilih aktivitas di sekolah. Dan ketika di SMA. Kami pun memilih organisasi yang berbeda. Gue ikut ROHIS dan dita ikut organisasi seni. Meskipun kami banyak beda. Tapi hobi kami tetap sama, yaitu suka baca novel dan mengambil gambar-gambar yang ada di sekitar walau hanya lewat kamera hp. Hehe. Oya, walaupun dita belum mengenakan hijab. Tapi dita nggak pernah menolak kalau gue ajak ia untuk sholat dhuha dan sholat zuhur berjamaah di sekolah. Gue juga nggak pernah ragu untuk mengajaknya. Dita juga tahu kalau gue bukan tipe orang yang berbasa-basi. Jadi kami sudah saling faham. Tapi semua berubah 180 derajat semenjak dita kenal dengan yang namanya wisnu.
Seantero sekolah pun sudah faham sekali. Dimana ada wisnu, di situ pasti ada dita, pun sebaliknya. Parahnya lagi saat di kelas. Si dita juga nggak henti-hentinya mandangin fotonya wisnu yang ada di dalam dompetnya berwarna ungu itu. Nilai mata pelajaran dita pun hampir rata-rata turun semua, tapi alhamdulillahnya dapat naik kelas itu anak. Gue juga sudah sering ngingetinnya jangan sampai pacaran menganggu pelajaran sekolah, tapi dita hanya jawab iya iya saja. Gue jadi bingung. Emang kalau orang jatuh cinta a.k.a ‘pacaran’ itu harus seperti itu banget ya? Maklum dari SMP sampe SMA ini pun gue belum pernah pacaran. Kalau hanya mengagumi seorang laki-laki, gue pernah, tapi kayaknya nggak sampe ke jatuh cinta deh. Ngeri… Hehe. Yaa Robb… Jangan buat gue jatuh cinta dulu. Gue nggak mau jadi kayak dita. Batin gue berkata…
Sabtu malam dita menelepon gue dengan suara yang surau dan sedikit terisak “Assalamualaikum Bel…” suara dita sangat jelas terdengar kalau ia lagi menangis.
“Waalaikumussalam. Bentar tak… Bentar… Lo kenapa nangis? Kalem. Mulai cerita. Ada apa dengan lo?” Gue bertanya pada dita dengan intonasi sedang.
“Bel, maafin gue. Gue yang nggak pernah peduliin nasehat dari lo. Maaf bel. Gue hamil bel, sudah masuk 2 bulan. Gue sudah minta wisnu untuk mempertanggungjawabkannya dari saat tahu gue hamil. Katanya iya dia mau tanggungjawab. Tapi sampe dengan hari ini wisnu belum menepati janjinya. Saat dihubungi nomornya selalu nggak aktif bel…” dita terus menangis. Dan gue, gue sangat shock saat mendengar pengakuan sahabat gue itu. Pantes saja akhir-akhir ini gue lihat ada yang beda pada diri dita, tampak lesu dan sedikit pucat. Wisnu pun nggak kelihatan di sekolah. Ah gue sangat merasa terpukul, gue merasa gagal dalam menjaga sahabat gue. Gue merasa nggak berdaya saat itu. Astaghfirullah…
“Lo tenang saja tak, gue akan bantu lo untuk cari laki-laki pengecut itu.” Ucap gue dengan perasaan bercampur aduk, dan lebih tepatnya geram. Ya gue geram dengan makhluk yang bernama wisnu prasetia itu. Namanya nggak sesetia orangnya.
Dari pas malam itu juga gue mencari wisnu ditemeni mang ujang sopir gue. Gue datangin rumahnya. Tapi nihil, gue nggak menemukan batang hidungnya di malam itu. Gue nggak nyerah sampai di situ. Terus gue berusaha mencari. Ini demi sahabat gue dan calon bayinya. Namun, tetap saja gue nggak menemukan wisnu. Wisnu seperti menghilang begitu saja dari dunia ini. Dia benar-benar laki-laki pengecut.
Pada suatu hari saat gue masih di sekolah. Gue ditelepon oleh bik minah, asisten rumah tangga gue. Beliau ngabarin gue kalau dita melakukan tindakan ingin bunuh diri dengan meminum obat yang dosisnya sangat tinggi. Oya, semenjak orangtua dita tahu, kalau dita hamil. Dita di usir oleh ayahnya, dan ibunya menelepon gue. Bertepatan dengan itu juga gue langsung menghubungi dita dimana posisi dia saat itu. Saat gue ketemu dengannya. Gue langsung mengajak dita ke rumah gue. Nggak peduli mama papa mau nerima atau nggak akan keberadaan dita di rumah. Itu urusan belakangan fikir gue. Dan sampai hari ini dita masih tinggal di rumah gue. Sesampai gue di rumah, gue nggak melihat lagi dita ada di kamar itu. Ternyata ada secarik kertas yang berisikan pesan singkat dari mang ujang di atas tempat tidur, isinya kalau bik minah dan mang ujang sudah membawanya ke rumah sakit. Gue langsung saja bergegas meluncur ke rumah sakit saat itu juga dengan menggunakan motor, dan saat itu gue masih mengenakan seragam sekolah.
Sesampainya gue di rumah sakit. Gue lihat keadaan sahabat gue itu terbaring lemah di ruang ICU. Gue jadi semakin sedih melihat keadaannya. Ketika dokter keluar dari ruang pasien. Gue langsung mendekati dokter tersebut. “Dok, gimana keadaan dita dan janinnya?” tanya gue pada dokter yang menangani dita pada saat itu.
“Maaf mbak, kami hanya dapat menolong ibunya. Bayi yang di dalam perutnya sudah tidak dapat tertolong, karena efek dari obat-obatan yang berdosis sangat tinggi, sekali lagi kami minta maaf mbak.” Ucap dokter tersebut.
”Innalillahi… Ya dok, terimakasih…” Gue nunduk dan duduk di kursi tunggu, sambil berdoa untuk kesembuhan dita.
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Dita pun telah diizinkan untuk pulang oleh dokter, karena keadaannya sudah sedikit membaik. Gue bersama mang ujang pun sudah di rumah sakit untuk menjemput dita. Dita terlihat sangat menyesal sekali akan perlakuannya yang telah mudah membunuh calon anaknya yang nggak berdosa itu. Lalu gue pun yang saat itu ada di dekatnya langsung memeluknya dan sedikit menenangkannya. Gue menghapus air matanya yang saat itu sangat deras mengalir.
“Sudah tak, lo nggak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Sekarang lo ambil hikmahnya aja dari kejadian ini. Jadikan ini pelajaran hidup bagi lo. Gue akan selalu ada disamping lo. Tenang. Lo nggak sendirian.” Gue berusaha menghibur dita.
“Thanks bella, selama ini gue mengabaikan lo sebagai sahabat gue. Hanya karena gue dibutakan oleh yang namanya cinta dunia hingga berujung penyesalan kayak sekarang ini, maafin gue bel. Dan sekarang, apa lo nggak marah bel dengan gue?”
“Heee. Untuk apa gue marah tak, gue nggak pernah marah dengan lo. Tapi satu saja permintaan gue, lo harus janji. Lo harus move on dari yang namanya wisnu. Dan juga terus lo tingkatin ibadah loh pada Allah, dan berjanji untuk benar-benar nggak mengulanginya lagi. Jujur gue kangen dengan kita yang dulu tak. Saat dhuha kita sholat bareng, pulang sekolah kita sempetin ke musholah dulu untuk sholat zuhur berjama’ah. Ke toko buku beli novel dan hunting foto.” Ucap gue sambil merangkulnya.
“Ya bel, gue juga kangen itu semua, gue benar-benar ingin bertaubat dan juga gue janji nggak bakal inget-inget lagi dengan laki-laki itu. Sekali lagi thanks bel, lo sudah banyak ngebantu gue, lo bener-bener sahabat gue yang paling baik bel. Dan insya Allah, gue juga ingin mengenakan jilbab sepertimu bel. Tolong bimbing sahabatmu ini ke arah yang lebih baik lagi bel. Bimbing gue mengenal Allah lebih dekat lagi.” Ujarnya serius pada gue.
“Masya Allah… Iya tak insya Allah. Kita sama-sama ya belajar. Ilmu gue juga belum banyak tak. Tapi kata buku yang gue baca. Kalau kita ingin memperbaiki diri dan terus belajar. Insya Allah, Allah sendiri yang akan memberikan jalan untuk kita. Jadi sembari kita memperbaiki diri, kita juga harus terus berdoa dengan Allah untuk dipermudah jalannya dan di istiqomahkan.” Dita pun mengangguk sambil menghapus air matanya.
Setelah kejadian itu dita pun berubah menjadi sosok yang bijaksana, semakin anggun dengan balutan hijab yang ia kenakan dan juga dewasa. Ia juga kini telah aktif mengikuti pengajian bareng ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Kan gue dari dulu suka ngikutin kegiatan-kegiatan taklim dan pergi ke majelis-majelis ilmu. Nah dita sering bilang ke gue, “Bel kalau lo mau pergi ke majelis-majelis yang sering lo datangin itu. Ajak-ajak gue ya, gue juga mau ikut bel”.
Hmmm. Sepertinya ia memang sudah melupakan kejadian yang memilukannya 3 tahun lalu. Sekarang ia tampak fresh dan kembali ceria lagi seperti awal gue mengenalnya saat SMP dulu. Gue pun ikut bahagia. Ia juga sekarang sudah pulang ke rumahnya sendiri, karena ayahnya sudah memaafkannya dan sudah mau menerima dita lagi pulang ke rumah. Dita juga telah mengikuti ujian paket C. Karena pasca kejadian itu, dita nggak mau ngelanjutin sekolah lagi. Gue, ibu dan ayahnya memberi saran pada dita agar ia mengikuti ujian paket C. Alhamdulillah dita pun mau. Sekarang kami pun kuliah di satu kampus tapi beda jurusan. Gue mengambil jurusan jurnalistik, dan lebih dulu kuliah setahun dari dita. Sedangkan dita mengambil jurusan bahasa dan sastra. Hubungan persahabatan kami pun tetap berjalan dengan baik. Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Insya Allah sahabat until jannah. Aamiin… 🙂
-END-
Nb:
Cerita ini hanya fiktif belaka. Maaf jika ada kesamaan nama dan alur cerita. Semoga bagi yang sedang membaca (terkhusus) anak2 muda yang sedang menjalankan pacaran. Pacaran yang sehat2 saja ya gaesss. Jangan terlalu berlebihan. Pun lebih baik nggak usah pacaran deh, jika pacaran itu nggak ada manfaatnya, dan malah mendatangkan mudhorot… Hihi. #Pisss #IndonesiaTanpaPacaran
Sakit!!! Kata ini sangat pendek. Tapi nggak sependek badan gue ya. Karena masih tinggian gue darinya :v #Eh? Hehe. Yappp bener sekali kata “sakit” ini bagaikan musuh bagi orang-orang yang enggan ia hampirin. Saat mendengar kata ini kebanyakan orang sangat takut apabila ia telah membayang-bayangi si pemilik tubuh. Wahhh sebegitunyakah perawakan pendek dari kata sakit ini, justru membuat orang takut??? 😮 Ahhh gue rasa itu manusianya aje yang terlalu lebay. Hhiii #pisss
Akhir-akhir ini banyak sekali gue dapatkan kabar tentang orang-orang yang sakit. Baik dari lingkungan rumah, anak teman kerja gue (ceileeehhh udeh kerja ni yen? :D… Hmmmm#^$*@^@*#*-_\), keluarga, teman dan di media sosial pun ada berita dari publik figur, juga dari kalangan pejabat negara. Berita-berita orang sakit itu sering sekali gue dapati. Terlebih lagi dengan diri ini sendiri, sudah seminggu ini gue ngerasain badan agak kurang fit (widihhh curhat bukkk…) hehe. Nggak juga sih 😀
Banyak yang mengeluh di saat sakit datang. Apakah lo salah satunya??? Kira-kira seperti inilah dumelannya :3 “Mengapa sakit ini harus aku yang alami?”, “Kenapa sakit ini tidak sembuh juga…?”, “Yaaa Allah tolong aku, aku sudah tidak kuat dengan penyakit ku ini…”, “Tuhan.. Cabut saja nyawa gue jika penyakit ini nggak sembuh-sembuh juga…” Wahhhh sadis bener perkataan yang terkahir ini, masa minta di cabutin nyawanye sama Allah… Astaghfirullah…
Gaesss, kita ini memang milik Allah. Saat Allah telah menakdirkan kita untuk pergi dari duniaNya. Ya, mudah saja bagi Allah menugaskan malaikat pencabut nyawa untuk mengambil ruh kita dan membiarkan jasad kita terbujur kaku. Tapi kalau kata Allah belum waktunya kita pergi dari dunia ini, separah apapun penyakit kita. Ya kita tidak akan pergi dari dunia ini sampai Allah bener-bener menakdirkan kita untuk pergi nantinya. Bro n sist perlu di inget, hidup dan mati kita itu adalah takdir Allah, sudah di catat di lauhul mahfuz saat pertama kita baru akan hadir di dalam kandungan ibunda. Hidup, mati, rezeki, jodoh dan perkara-perkara lainnya yang terjadi pada kita itu, semuanya kita sudah buat kontrak sama Allah…(Mulai serius nih…:D) Ahaha. Kagak juga. 😛
Jadi janganlah mengeluh saat sakit apalagi sampe lo lo pade ngeluari kata yang kagak mengandung hikmah, itu malah akan menjadi doa yang buruk untuk diri kalian sendiri. Kagak bersyukur namanya tuh.
Yuhuuu. Bener sekali… Disaat kita sakit pastilah nafsu makan kita berkurang, nggak ada gairah, raut wajah nggak terbentuk lagi, gue juga sudah ngalaminya, tapi ada suatu hikmah di balik sakitnya kita. Yaitu Allah angkat dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Allah mendatangkan 4 Malaikat untuk menjaga kita saat kita sakit. Kagak percaya??? Nih ada haditsnya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.
Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda:
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.“
Allah Swt. memerintahkan :
Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya, maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke-4, Allah tidak memerintahkannya untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin tersebut.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata: “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:“Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”
“Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampai pun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim).
“Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.” (HR Ath-Thabarani).
“Penyakit panas itu menjaga tiap mu’min dari neraka, dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.“(HR Al-Qadha’i).
Nah gaesss. Sakit ini adalah sunatullah loh, ketentuan dari Allah swt. yang ditimpakan pada manusiaNya. Sudah menjadi hukum alam. Malah yang nggak pernah sakit itu yang harusnya khawatir. Karena Alllah nggak berikan bonus terhapusnya dosa-dosanya saat itu. Sedang pada orang yang sakit, Masya Allah… Allah begitu ringan untuk mengampuni dosa-dosanya yang pernah ia perbuat dan mengembalikannya pada fitrah lagi.
Jadi kagak perlu lah kita jadi pengeluh di saat sakit. Tetap sabar, ikhlas dan selalu posisikan diri untuk selalu semangat. Walau kenyataannya nggak semangat, hehe. Tapi kita paksaain tuh diri untuk jadi semangat. Karena gerak kita sesuai dengan keyakinan hati dan mindset kita gaesss. Karena hanya kitalah yang mampu mengendalikan diri kita. Bukan orang lain.
Dalam keadaan sakitpun kita harus tetap bersyukur karena datangnya sakit itu adalah bukti kasih sayang Allah pada kita. Buktinya Allah mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam keadaan sakit. Iya toh? Iyalah… 😀
Penulis & Pengirim: Yeni Herlinda Follow IG: @yeniherlinda.yh
“Allah
memegang jiwa ketika matinya dan memegang jiwa orang yg belum mati di waktu
tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa orang yg telah Dia tetapkan kematiannya dan
Dia melepaskan jiwa yg lain sampai waktu yg ditentukan. Sesungguhnya pada yg
demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yg mau berfikir.”
Judul tulisan ku kali ini adalah tentang kematian. Ya, kematian. Kematian merupakan sunnatullah yg berlaku pada tiap makhluk yang bernyawa.
Kematian adl diamnya jiwa dan terpisahnya nyawa dari badan utk kembali kepada
Rabbnya. Ia lalu dikuburkan dan itulah terminal awal dari kehidupan akhirat yg
disebut alam barzakh. Kematian tidak akan menjemput manusia sebelum ia sampai
pada ajal dan rezeki yg ditentukan Allah untuknya. Itulah yg disebut takdir.
MATI!!!
Jreng...jreng...jreng... Hhmmm. Semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati bro n sist, pembedanya adalah hanya waktu dan tempat saja. Dan jika
manusia ditanya tentang mati, sudah pasti mereka menjawab tidak ingin mati,
inginnya hidup selamanya... (Nah orang-orang yang seperti inilah yang dinamakan
cinta dunia dan takut mati atau dalam bahasa gaulnya ini adalah penyakit
“WAHN”). *Astaghfirullah*
Yokkk hayati
Firmah Allah SWT berikut:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang
siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia
telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan." (QS.
Al-Imran: 185).
Dan Allah
berfirman lagi dalam Qur’annya surah An-Nisa ayat 78, yang artinya:
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan
kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh...".
Sudah jelas bukan dari ayat Allah diatas dan
masih banyak lagi ayat-ayat Allah yang lainnya telah menjelaskan bahwa kematian
itu sudah pasti akan menghampiri kita masbro and mbaksist. Dan tidak ada satu
orangpun yang tahu kapan, dimana, dan bagaimana cara kita menghadapi kematian
itu kelak... Kita tidak akan penah tahu. Karena itu semua adalah rahasia Allah
dan Dia lah yang merancang skenario ini.
Seandainya saja manusia selalu ingat akan mati dan
siksa kubur, mungkin tak ada lagi kejahatan, kedengkian, pembunuhan, dan
peperangan. Karena manusia akan selalu berbuat baik dan taat beribadah kepada
Allah SWT.
Rasulullah SAW telah mengisyaratkan kepada ummatnya:
”kafa bil
mauti wa’iizho” artinya: cukuplah kematian sebagai nasihat atau peringatan.
Lalu apa yang telah kita persiapkan untuk menyambut datangnya mati itu, bro n sist??? =O
Banyak manusia didunia, dan banyak pula jenisnya (sudah semacam buahan saja ada
jenisnya segala =P). Ya, kenapa aku bilang begitu? Karena pada hakikatnya
manusia-manusia sekarang ini memandang tentang kehidupan dan kematian itu
dengan cara berbeda-beda.
Ketika tingkat keimanan seseorang itu tinggi,
maka kuat pula rangsangan hatinya apabila mendengar atau sedang
memikirkan tentang kematian itu. Begitupun sebaliknya, ketika tingkat keimanan
seseorang itu lemah, maka untuk memikirkan dan mendengar tentang kematian pun
mereka acuh, dan seolah mereka merasa bahwa hidupnya akan lama didunia ini...
*sungguh miris* =’((
Semuanya kembali lagi pada diri kita masing-masing...!!!
Kita harus bersiap diri. Siap tidak siapa kita harus siap.
Mari bermuhasabahlah dan bertafakurlah sejenak...
Sadarlah bahwa kita hidup didunia yang fana ini tidak akan selamanya kekal.
Karena akhiratlah tempat kehidupan yang hakiki itu. Dan Allah Maha pemilik atas
kekuasaan bumi dan langit beserta isinya. Maka jangan sekali-kali kita
mendustakan-Nya, karena bisa saja nanti Allah murka kepada kita dan memberi
azab berupa api neraka... *Naudzubillahi min dzalik* =O
Masa
depan pasca kematian ketentuannya jelas, yang berbuat baik balasannya
adalah syurga dan yang berbuat kejahatan balasannya adalah neraka
“Apabila Dia
hendak menetapkan sesuatu Dia hanya berkata, “JADILAH” maka jadilah sesuatu
itu.” (QS. Ali-imran: 47)
Banyak sudah contohnya disekeliling kita. Apalagi pengalaman ku pribadi. Semenjak aku SD, SMP, SMA, dan Kuliah sekarang. Sudah beberapa orang terdekat ku pergi menghadap sang illahi. Mereka semua adalah orang-orang yang aku sayangi. Tepatnya kemarin pagi (18 April 2014) aku mendapatkan kabar bahwa nenek orang tua dari ibu ku telah meninggal dunia. Rasanya belum sampai setengah tahun kepergian kakek. Dan sekarang nenek pun sudah pergi meninggalkan kami semu untuk selam-lamanya. Yah begitulah Ajal. AJAL/kematian
tak pernah pilih-pilih usia, besar kecil tua muda sehat ataupun sekarat
siapa yang berangkat lebih awal tak ada yang mengetahui.Kecuali Allah SWT.
Jadi mulai dari sekarang mari kita hidupkan mati itu dengan mengingat MATI!!
“Loh, maksudnya gimana tuh?” =/
Maksudnya, seperti yang sudah aku katakan sejak awal
tadi. Kita harus bersiap diri.
“Caranya???” =O
Caranya ya dengan kita
mendekatkan diri kita lagi kepada Allah pastinya. Misalnya puasa, sholat, dzikir,
shodaqoh, serta banyak-banyak membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi
kandungannya. Itu semua sudah menjadi bekal untuk kita menyambut MATI!!! Karena
kita telah melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh-Nya. In sya' Allah Surga
akan kita dapatkan =)) *aamiin*
“Sampaikanlah
kabar gembira kepada oarng-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa
untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.”
(QS. Al-Baqarah: 25)
Dari Abu
Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda: Allah berfirman: “Telah Ku persiapkan
untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh (berbakti), sesuatu yang belum pernah dilihat
oleh mata, belum pernah pula didengar oleh telinga, dan juga belum pernah
terlintas didalam benak (hati) seorang manusia.” (HR. Bukhari Muslim,
At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
SubhanaAllah,,, sungguh indah janji Allah untuk kita
atas amal kebajikan yang telah kita lakukan =))
Tapi kenapa hanya segelintir orang saja yang mau
mengingat MATI???
Ada hal yang perlu kita sadari,,,
mengapa manusia lupa dengan mati? Karena nepsong alias nafsu. Ya nafsunya yang
telah dikuasai SETAN, sesuai dengan janji iblis ketika diusir dari surga, ia
berjanji untuk selalu menggoda keturunan Adam a.s, agar jadi temannya di neraka
nanti. Mungkin itulah salah satu kenapa manusia lupa akan mati, dan tidak mau
berbuat baik, selalu mencari permusuhan, dan saling membunuh.
Maka beruntunglah manusia yang ingat mati, sehingga
akan selalu berbuat baik dan beribadah sebagai tabungan amal baik yang akan
dipetik di hari akhir nanti.
Kini aku, anda yang mungkin sedang membaca tulisan ini dan kita tentunya semua telah
paham bahwa semua di dunia ini akan berakhir. Masa bayi akan berakhir dengan
memasuki usia anak-anak. Usia bermain anak-anak pun akan berakhir dengan
memasuki usia remaja. Masa remaja yang indah akan segera berakhir dengan
datangnya usia dewasa. Masa tua akan datang sebagai akhir dari usia dewasa
seseorang. Masa tua pun akan berakhir dengan kematian.
Jika dunia dan seisinya memiliki akhir, mengapa
manusia semangat sekali untuk mengejarnya. Sampai-sampai nafas terakhirnya pun
dipakai untuk berlari menyongsong dunia. Wahai manusia! Sadarkah engkau...
Harta akan musnah, jabatan akan habis dengan beriringnya waktu, kecantikan akan
luluh di usia senja. Semua akan berakhir dengan ketiadaan. Kehidupan ini akan
berakhir dengan takdir kematian. Tapi mengapa dengan angkuh engkau katakan
“akan hidup seribu tahun lagi”.
Jika kematian datang sebagai akhir dari kehidupan,
maka akhirat datang sebagai akhir dari sebuah kehidupan yang kekal dan abadi.
Akhiratlah yang pantas menjadi tempat tujuan terakhir, karena dia adalah akhir
yang abadi untuk kehidupan. Akhirat adalah ruang terakhir yang harus kita isi,
karena dia berisi kenikmatan, kebahagian, dan anugrah terbesar yang tak akan
pernah habis dinikmati, tak akan pernah punah meskipun dijamah terus menerus,
tak akan pernah usang oleh waktu.
Dimanapun kita berada, segala apa yang kita kerjakan
semasa hidup kita, itu akan dimintai pertanggung jawabannya di hari akhir
nanti. “Tiap-tiap
diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Al-Muddatstsir: 38)
Hari ini, semoga masih ada usia,
untuk mengejar surga Allah itu, dengan amal-amal yang nyata:"memperbaiki
diri dan mengajak orang lain". Mati itu sudah pasti, namun
berbuat kebajikan sebelum mati itu tiba adalah pilihan...
Marilah
kita meninggalkan dunia ini dengan penuh karya dan kebermanfaatan. Kemudian meninggalkan sejarah yang sebagai indikator menunjukkan keberhasilan setelah kematian, yaitu dengan amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang dapat mendoakan kedua orang tuanya.Dan inilah ketiga amal yang akan terus mengalir meski kita telah meninggalkan dunia ini.
Jangan berfikir ''saya telah berbuat
baik''. Tapi berfikirlah ''saya harus selalu berbuat baik.''