Tampilkan postingan dengan label Dakwah Ilallah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Ilallah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 April 2018

Ini Lirik Lagu!!!



APAKAH BENAR ENGKAU PEJUANG 
By: Qatrunnada

Engkau ingin berjuang, 
Tapi tidak mampu menerima ujian 
Engkau ingin berjuang, 
Tapi engkau rosak oleh pujian 
Engkau ingin berjuang, 
Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan 

Engkau ingin berjuang, 
Tapi tidak begitu setia kawan 
Engkau ingin berjuang, 
Tapi tidak sanggup berkorban 
Engkau ingin berjuang, 
Tapi ingin jadi pemimpin 
Engkau ingin berjuang, 
Menjadi pengikut agak segan 

Engkau ingin berjuang, 
Tolak ansur engkau tidak amalkan 
Engkau ingin berjuang, 
Tapi tidak sanggup menerima cabaran 
Engkau ingin berjuang, 
Kesihatan dan kerehatan, 
Tidak sanggup engkau korbankan 
Engkau ingin berjuang, 
Tapi tidak mampu menerima ujian 

Engkau ingin berjuang, 
Tapi engkau rosak oleh pujian 
Engkau ingin berjuang, 
Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan, 
Engkau ingin berjuang, 
Masa tidak sanggup engkau luangkan 

Engkau ingin berjuang, 
Karenah isteri tidak kau tahan 
Engkau ingin berjuang, 
Rumahtangga lintang-pukang 
Engkau ingin berjuang, 
Diri engkau tidak engkau tingkatkan 

Engkau ingin berjuang, 
Disiplin diri engkau abaikan 
Engkau ingin berjuang, 
Janji kurang engkau tunaikan 
Engkau ingin berjuang, 
Kasih sayang engkau cuaikan 
Engkau ingin berjuang, 
Tetamu engkau abaikan 

Engkau ingin berjuang, 
Anak isteri engkau lupakan 
Engkau ingin berjuang, 
Ilmu berjuang engkau tinggalkan 
Engkau ingin berjuang, 
Kekasaran dan kekerasan engkau amalkan 

Engkau ingin berjuang, 
Pandangan engkau tidak diselaraskan 
Engkau ingin berjuang, 
Rasa bertuhan engkau abaikan 
Engkau ingin berjuang, 
Iman dan taqwa engkau lupakan 

Ya sebenarnya apa yang 
Engkau hendak perjuangkan... 

Minggu, 03 April 2016

RASULULLAH SANG PROMOTOR DAKWAH !

Sebagai makhluk yang memang sudah diberikan fitrah oleh Allah SWT dari sejak lahir, manusia juga memiliki rasa cinta. Sebuah rasa yang jika benar-benar dilandasi iman akan menghadirkan kekuatan. Cinta yang tumbuh karena iman adalah behtera terbaik untuk sukses mengarungi samudera kehidupan didunia maupun akhirat. Itulah mengapa Islam sebagai sebuah peradaban memandang cinta sebagai perkara utama.

Seperti sebuah pedang bermata dua, cinta juga tergantung pada orang dibelakangnya, paradigma yang menggerakannya, dan cita-cita yang ditujunya. Jika cinta menjadi motor penggerak bagi orang-orang kafir, dengan paradigma kekafiran, dan tujuannya hanya dunia, maka sudah pasti pedang cinta tadi akan merusak tatanan dunia yang ada. Tapi jika cinta menjadi motor penggerak bagi para aktivis dakwah, dengan paradigma keimanan. Maka sudah pasti cintanya akan senantiasa menjadi cahaya yang akan menerangi dunia yang semakin kelam ini.

Sebagai makhluk ciptaan Allah sudah semestinya kita harus selalu bersikap baik kepada-Nya, tentunya dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, menjalankan semua apa yang telah Dia perintahkan dan tidak melakukan segala apa yang telah dilarang oleh-Nya. Serta dapat mengajak manusia lainnya untuk selalu terus berammar ma’ruf nahi munkar. Yang tujuannya agar dapat menyadarkan manusia bahwa Allah adalah satu-satunya tujuan hidup dan mati kita. Bukanlah dunia tempat tinggal kita yang abadi, namun akhiratlah adalah tempat tinggal kita yang sebenar-benarnya dan yang paling hakiki. Tentunya ketika meninggal nanti, kita pasti mengharapkan agar dapat meninggalkan dunia yang fanah ini dengan Khusnul Khotimah, dan Surga Firdaus sebagai tempat tinggal kita. Maka dari itu, marilah dengan dengan niat yang ikhlas kita harus lebih lagi untuk dapat meningkatkan ibadah kita kepada-Nya, serta dapat mengajak manusia yang lainnya juga. Yang mungkin dulunya berbelok, menuju ke jalan yang lurus agar kita sama-sama dapat menikmati tempat yang telah Allah siapkan untuk kita (baca: surga-Nya), dan dapat berjumpa dengan-Nya serta dapat berkumpul dengan orang-orang yang selama didunia hidupnya dipertaruhkannya untuk berjuang dijalan Allah SWT. SubhanaAllah... Itulah imbalan untuk kita karena kita selama hidup didunia tidak pernah melupakan-Nya, dan janji-Nya kepada kita itu tidak pernah ingkar.

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh...” (QS. Ali-‘Imran: 110)

Memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai Khalifah Allah untuk selalu mengajak manusia berammar ma’ruf nahi munkar. Dan ini tidak bisa kita lakukan dengan cara yang keras dan “Semau Gue”. Yang ada mereka malah menjauh dari kita, bukannya mendengarkan. Jadi cara yang baik itu adalah dengan cara yang baik-baik. Sebagaimana firman Allah SWT didalam Qur’an Surah An-Nahl: 125, berikut artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Seiring dengan waktu dan perkembangan zaman. Kita harus mengerti bahwa semuanya itu membutuhkan proses dan tidak bisa instant (baca: langsung). Dan cara dakwah yang paling tepat adalah dengan cara dakwah dari hati ke hati atau dalam bahasa dakwah namanya itu adalah dakwah fardiyah, yang artinya adalah menyampaikan kepada manusia tentang segala hal yang baik dan benar menurut pandangan Islam dengan cara mendekati antar personalnya. Sebagaimana dakwah seperti yang dilakukan oleh Syeikh Imam Hasan Al-Banna, yang berdakwah dengan mendatangi satu per satu warung-warung kopi dan bahkan tempatnya orang-orang berjudi, dan tentunya dengan cara yang baik serta tidak melukai hati orang tersebut.

Melakukan pengkaderan itu memang sangat penting, karena untuk melakukan suatu pekerjaan yang jika kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal, tentu kita akan lebih memilih bekerjasama dengan orang-orang yang satu fikroh atau istilah lainnya satu pandangan atau sejalan dengan kita.
Ternyata melakukan suatu rekrutmen kader atau pengkaderan itu sendiri memang sudah merupakan salah satu model perjuangan para Nabi. Bersama para kader inti, yang tangguh, mereka berjuang menyebarkan (baca: mendakwahkan) Islam dan berbagai ujian serta rintangan yang dahsyat yang mereka tempuh.

Rasulullah SAW merekrut dan mengkader Khadijah ra., perempuan yang pertama kali beriman dan juga istri beliau, setelah itu Abu Bakar ra., sahabat karib beliau, Ali bin Abi Thalib ra., anak pamannya yang telah dibinanya dari sejak kecil, Zaid bin Haritsah ra., mantan budak beliau. Abu Bakar pun meluaskan dakwahnya sendiri. Melalui dakwahnya maka Ustman bin Affan ra., Zubair bin Awwam ra., Adurahman bin Auf ra., Sa’ad bi Abi Waqqash ra., dan Thalhah bin Abi Ubaidillah ra., masuk Islam. Kedelapan orang ini merupakan para kader pertama yang masuk Islam, kemudian sholat, dan membenarkannya. Rekrutmen ini kemudian berkembang hingga mencapai 60 sahabat pertama yang berasal dari dari berbagai kabilah di Mekkah ketika itu.

Para kader dakwah terus bertumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka inilah yang senantiasa menjadi pewaris, menyebarkan dakwah dari zaman ke zaman. Semoga Allah membalas semua jasa mereka dan menganugerahkan surga-Nya yang luas dan indah. Kita berharap kepada Alloh, agar dimasukkan kedalam golongan mereka, para generasi penyeru dakwah, dan dikumpulkan bersama-sama mereka kelak di surga-Nya. Aamiin. Semoga!
“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’: 69)

Perjalanan dakwah ibarat sebuah kehidupan, ia harus terus hidup secara dinamis atau terjaga kestabilannya. Karena sejatinya perjalanan dakwah ini masih sangat panjang dan tidak ada penghujungnya. Kitalah yang akan menjadi penyambung mata rantai dakwah ini.

“Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal: 65)
 Begitulah Al-Qur’an memberikan inspirasi. Artinya seorang kader yang berkualitas tinggi akan dapat megalahkan sepuluh orang musuh (1:10), sedangkan kader yang lemah kualitasnya hanya dapat megalahkan dua orang musuh (1:2)

Rasulullah sebagai penggerak dakwah untuk agama Allah ini, telah banyak meninggalkan warisan kepada kita, tentang dakwah yang telah ia lakukan. Rasulullah telah banyak mengislamkan orang-orang kafir, dan orang-orang kafir tersebut banyak yang masuk Islam dikarenakan akhlak beliau. Sejalan dengan agama kita memang, Islam yang dikenal sebagai agama akhlak.
 Pantaslah jika Rasulullah disebut sebagai “Sang Promotor Dakwah” itu. Rasulullah telah menyebarkan dan memperkenalkan agama Islam kepada kita umatnya serta mengajak manusia untuk kembali taat kepada Allah. Kata umatku yang diucapkannya sebanyak tiga kali ketika akan menghembuskan nafas terakhirnya itu, adalah pembuktian bahwa beliau sangat mencintai umatnya (baca: kita), melebihi kelurganya, sahabatnya, bahkan dirinya sendiri.
”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

 Semoga kita selalu dapat mengamalkan segala sifat yang ada pada diri Rasulullah. Dan dengan menjadikan Rasulullah sebagai contoh yang baik bagi kita, maka kita telah mencintai Rasulullah. Dan dengan mencintai Rasulullah itu juga telah menghantarkan cinta kita kepada Sang Maha Pemberi Cinta itu sendiri, yaitu Allah SWT.
“Dakwah itu ada karena adanya rasa cinta, dan cinta itu hadir karena Allah”.

Wallahua’lam Bishshawab...

---

#tulisan ini di buat di penghujung tahun 2012

Lika-liku Halaqoh Ku ^_^


Aku bukan berasal dari keluarga aktivis dakwah. Aku pun besar tidak dalam lingkungan yang keislamannya kuat. Aku adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. Aku memiliki satu orang kakak perempuan dan satu orang kakak laki-laki. Walaupun begitu, aku tidak terlalu buta akan ilmu agama karena sejak umur 3 tahun aku sudah masuk TPA, awalnya hanya ikut-ikutan. Disana selain belajar mengaji. Kami juga mendapatkan ilmu tentang keislaman. Sampai kelas 5 SD aku berada disana sampai khatam qur'an.

Dari latar keluarga yang tidak terlalu mengerti tentang agama. Aku sadar terlalu cetek ilmu ku tentang Islam. Waktu SMP aku masuk di SMPN 41 Palembang. Ada memang pelajaran agama Islam dan BTA. Tapi tetap saja aku merasa kurang. Mana lagi kalau kembali lagi ke belakang. Dari SD dan SMP bisa dikatakan aku adalah seorang anak yang bisa dikatakan tingkahnya sama seperti anak laki-laki. Main bola kaki, balapan sepeda. Teman-teman ku juga kebanyakan dari kaum adam. Hhe... Afwan, namanya juga masih anak-anak dan belum ngerti saat itu.

Ketika SMA. Aku diterima di SMAN 14 Palembang. Kata orang masa-masa SMA itu adalah masa dimana anak-anak semakin ingin mencari jati dirinya. That's right... Aku merasakannya sist n bro. Waktu pertama masuk sekolah, dan ketika itu bertepatan dengan kegiatan MOS (masa orientasi sekolah), ketika aku dan teman-temanku akan melaksanakan sholat zuhur, tiba-tiba seorang kakak kelas mengajak kami untuk masuk organisasi ROHIS (keROHanian ISlam). Sesudah sholat zuhur, kami teringat kembali akan ajakan dari kakak kelas tadi. Dan keesokkan harinya kami pun mendaftarkan diri untuk mengikuti organisasi ROHIS tersebut.

Kami pun tercatat resmi sebagai anggota baru ROHIS SMAN 14 Palembang. Kegiatan demi kegiatan kami ikuti. Kami juga mengikuti kegiatan mentoringnya. Jadwal mentoring ku dulu tidak tetap. Dikarenakan mentor ku dulu adalah seorang mahsiswa, yang padat akan jadwal kuliah dan ditambah kegiatannya sebagai aktivis dakwah juga dikampusnya. Tapi aku bangga dengan beliau, karena di sela-sela kesibukkannya, beliau masih menyempatkan diri untuk mengisi mentoring kami. J

Hampir setiap seusai pulang sekolah, aku sering "mangkal" di mushola sekolah untuk mengerjakan tugas sekolah sampai ba'da ashar bersama teman-teman kelas. Selain mengerjakan tugas sekolah, aku dan besama teman-teman ku juga sering membantu pak Abi untuk membersihkan mushola, namun hanya tempat sholat permpuan dan wc perempuan saja yang kami bersihkan. Karena berbagi dengan anak laki-laki. Aku pun semakin rutin mampir ke mushola sekolah setelah ikut mentoring di sekolah. Aku semakin akrab dengan rekan-rekanku di ROHIS SMAN 14.

Sejak kelas 2. Kami di bagi menjadi kelompok-kelompok. Dan namanya juga sudah berganti menjadi halaqoh bukan lagi mentoring. Dan memang aku merasakan ada perbedaan antara mentoring dan halaqoh. Saat masih mentoring dulu aku ingat sekali, orang-orang yang ada di dalam itu semuanya adalah teman satu kelas denganku. Tapi ketika di halaqoh, orangnya berasal dar kelas lain, hanya ada sekitar 3 orang yang masih tersisa berasl dari kelas ku. Yang lainnya sudah ada dikelompok berbeda dan ada juga yang tidak melanjutkan kegiatan tersebut. Mentornya pun sudah bukan dengan mbak yang lama. Sudah berganti dengan mbak yang baru, dan sebutannya juga sudah bukan lagi mbak mentor yang sering kami sebut-sebut dahulu, tapi sudah berganti dengan sebutan murobbi atau murobbiyah untuk yang perempuan.

Lalu aku pun mengikuti kegiatan halaqoh itu dengan penuh hikmat. Selain dapat bertemu dengan teman-teman yang baru, aku juga mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang lebih luas lagi. Murobbi pun dengan sabar dan ikhlas mengisi kami. Dulu aku juga pernah sengaja bolos untuk tidak datang, padahal kami sudah melihat mbak sudah menuggu kami sedari kami pulang sekolah tadi. Tapi tetap saja niatku dan beberapa temanku untuk tidak mengikuti halaqoh di hari itu tertunaikan. Astaghfirulloh... Kalau mengingat tingkah ku dulu.

Kegiatan halaqoh SMA tiba-tiba terhenti ketika aku sudah lulus SMA. Setamat dari SMA aku pernah ditawarkan oleh MR ku dulu "dek, halaqohnya dilanjutin ya, ntar mbak cariin MR yang baru ya...", tapi jawabku. "nanti saja mbak, kalau sekarang lagi sibuk untuk ngurusi masuk kuliah". Ya lagi-lagi itu dikarenakan pengetahuanku yang masih kurang dalam pentingnya halaqoh. Tapi walau waktu itu aku sudah tidak halaqoh lagi dengan MR yang lama, tapi mbak selalu mengajak ku dalam kegiatan-kegiatan keislaman, jadi tetap aku mendapatkan sedikit percikan ilmu agama, mungkin karena mbak tahu aku sudah lama juga tidak halaqoh lagi, kira-kira sekitar 3 bulan aku stop sejenak dari kegiatan halaqoh semenjak usai kelulusan sekolah dulu.

Kemudian aku mulai masuk ke dunia baru, yaitu dunia perkuliahan. Saat aku dinyatakan diterima di kampus ku yang sekarang ini yaitu IAIN Raden Fatah Palembang aku pun mengurusi semua berkas-berkas untuk pendaftaran ulang. Seusai kami daftar ulang itu, kami melihat sebuah stand informasi di depan kantor rektorat. Aku, putri, dan cek hus (wira) pun mampir kesana. Ternyata stand pendaftaran tersebut adalah dari salah satu organisasi intra di IAIN Raden Fatah Palembang. Organisasi tersebut bernama Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Refah. Kami pun berkenalan dengan mbak yang sedang jaga distand tersebut, nama mbak itu adalah TASMANIA. Ya mbak tasmania namanya, tapi kami memanggilnya dengan mbak nia. Segala info tentang perkuliahan, semuanya aku dapatkan dari beliau. Termasuk info OSPEK.

Dan ketika OSPEK banyak sekali stand-stand berbagai macam organisasi atau kata lain sebutan dari organisasi itu adalah UKMK (unit kegiatan mahasiswa khusus) baik internal maupun eksternal. Saat semua UKMK-UKMK itu tampil dalam inagurasi perkenalan UKMK di OSPEK. Aku tertegun dan seluruh badan ini pun ikut bergetar (hhi, serius nih), ketika melihat penampilan UKMK Lembaga Dakwah Kampus Refah. Teriakan takbir itu yang selalu ku rindukan. Selesai OSPEK aku langsung bergegas ke stand-stand UKMK. Ya,,, tentu saja aku mencari stand LDK Refah. Dan disana juga aku melihat ada mbak tasmania, kemudian aku dan temanku diajak mbak nia duduk di stand tersebut, lalu mbak nia juga mengenali kami dengan mbak-mbak yang lain. Aku dan beberapa teman ku pun meninta formulir pendaftaran dan mengisinya distand itu lah.

Well,,, aku pun mengikuti kegiatan pertama LDK ba'da OSPEK. Berhubung waktu OSPEK dulu bulan puasa jadi kegiatannya waktu itu ba'da zuhur. Acara tersebut bernama OH atau "open house" LDK Refah. Kegiatannya luar biasa, selain dapat berkenalan dengan teman-teman baru, tentang LDK, juga menambah pengalaman dan ilmu.

Saat itu aku ikut lagi kegiatan dari LDK Refah yaitu SILARIS (silaturrahmi alumni rohis) ba’da lebaran. Seusai kuliah perdana waktu itu, aku langsung sms temanku yang ada di fakultas tarbiyah namanya heni. Karena waktu masih pagi sekitar jam 10.an saat itu. Lalu heni mengajakku untuk ikut ke kosannya dulu, karena acaranya habis zuhur. Akupun tak menolak ajakkannya. Kemudian terdengar kumandang adzhan zuhur. Kami pun sholat, seusai sholat kami bergegas untuk kembali lagi ke kampus dan mengikuti agenda silaris. Dan di silaris kami di buat kelompok lagi, yang sebelumnya ketika open house sudah dikelompokkan. Tapi aku tidak sekolompok dengan heni. Kami pun mendapatkan mentor dikelompok itu, namanya mbak ria.

Setelah agenda silaris. Aku mengikuti kegiatan LDK selanjutnya, kalau tidak salah hanya berjarak dua minggu dari kegiatan silaris. Nama kegiatannya itu adalah DDK1 (Dauroh Dakwah Kampus 1). Aku mengajak teman-temanku untuk mendaftar itu. Agenda yang satu ini lebih luar biasa lagi, dimana waktunya itu dua hari, dan bermalam (mabit), tempat berlangsung kegiatannya itu adalah di salah satu pondok pesantren di palembang. Disana kami mendapatkan materi-materi tentang keislaman, terutama materi tentang Islam yang kaffah (menyeluruh). Mantap banget nih agenda, bukan sampai sore, tapi sampai malam gan. Selesai dari materi sekitar jam setengah sebelas malam, kami pun bergegas masuk ke dalam kamar kelompok masing-masing. Dan sekitar pukul 02.00 WIB kami disuruh bangun kembali, dan melaksanakan sholat tahajud. Setelah sholat tahajud kami diajak ke masjid untuk muhasabah (berintrospeksi) diri bersama. Kata demi kata syair yang mbak-mbak itu utarakan dan diiringi dengan instrumental musik doa. Membuat air mata ini tidak bisa tertahan. Akupun sangat tersentil dengan syair yang di sampaikan itu. Benar-benar membuatku tersentil, rasa ingin merubah diri ini ke arah lebih baik lagi sangat menggebuh saat itu. Aku merasa diri ini masih banyak sekali kekurangan. Dan seusai muhasabah, kami pun bersalam-salaman dan meminta maaf dengan satu sama lain.

Eitsss, nanti dulu gan. Nih agendanya belum selesai. setelah habis bermuhasabah kami tidak tidur, karena waktunya sudah mepet ke sholat subuh. Jadi kami mengisi waktunya dengan tilawah. Tidak lama kemudian adzhan subuh pun berkumandang. Lalu kami pun melaksanakan sholat subuh berjama'ah.

Setelah sholat subuh, tiba-tiba seorang mbak, namanya mbak seri, beliau saat itu yang menjadi satuan tugas untuk akhwat mengetuk kamar kami, lalu melihat ke arah ku, “dek, nanti tilawah ya untuk pembukan agenda bakda shubuh ini”, diri ini pun tak dapat menolak saat di todong di tempat. Setelah mc selesai membuka agendanya, aku pun tilawah, setelah itu kami lanjut untuk al-ma'surotan (dzikir) pagi bersama. Dan ada juga yang bertausyiah, yang ditunjuk adalah peserta dauroh juga, tapi aku sendiri lupa siapa yang waktu itu ditunjuk untuk tausyiah... Dan di pagi harinya  kami riyadhoh (olahraga) bersama, dan dilanjukan dengan sarapan pagi serta sholat dhuha. Kemudian setelah sholat dhuha kami lanjut outbound. Right,,, ini outbound bukan sembarang outbound gan. Outboundnya jarang terjadi, dan baru disini aku menemukan outbound yang seperti itu. Tapi banyak hikmah yang dapat ku ambil dari berbagai permainan yang ada. Yang pasti menumbuhkan kekompakan dan ukhuwah (persaudaraan) islamiyah, meskipun agak terasa sakit dan lelah, tapi masih bisa tertutupi.

Setelah outbound kami pun balik keruangan untuk bersih-bersih dan siap-siap untuk penutupan agenda. Sebelum penutupan agenda tersebut, kami di bagi kelompok lagi. Setelah itu agenda barulah di tutup. Dan kami pun pulang.

Ternyata, kelompok yang dibagi waktu usai dauroh, itulah kelompok halaqoh ku yang baru. Aku berkenalan dengan  kelompok halaqoh ku yang baru itu, diantaranya: novita, mufti, marlen, vini, vici, mimi, yuli, rati, reni, septa dan nisa. Mufti dan marlen  adalah teman ospekku. Rati, mimi dan nisa sudah ku kenal saat pertama kami bertemu di agenda SILARIS dan juga satu kelompok. Bersama mereka aku mengikuti halaqoh setiap pekannya. Agenda halaqoh kami pun berjalan setiap minggunya setelah agenda dauroh itu. Namun, hukum alam pun terjadi, ada beberapa dari teman-temanku itu stagnan, entah apa alasannya. Dan saat itu aku hanya dapat berdoa dan berharap semoga mereka mau kembali lagi untuk halaqoh suatu saat nanti. Pada akhirnya, kami pun ditransfer ke kelompok halaqoh yang lain. Dan disinilah hal yang paling membuatku sedih, manalagi saat mau perpisahan tidak diberi tahu sebelumnya oleh MR ku. Tiba-tiba beliau menyuruh kami untuk mendengarkan sebuah lagu dari grup nasyid Brother “Untukmu Teman”. Air mata ini pun semakin deras mengalir. Tapi setelah dijelaskan oleh MR, kalau beginilah perjalanan halaqoh. Akhirnya kami pun menerima dengan hati yang ikhlas.

Sekarang sudah ditransfer lagi, dan sempat kelompok kami di bagi dua kelompok karena quotanya yang banyak namun MR nya tetap MR yang sama, tapi sekarang kami di gabung. Dikarenakan anggota sudah ada yang berkurang, ya sudah hukum alam lagi-lagi. L

Halaqoh yang aku jalani selama ini, membawa cukup banyak manfaat bagiku, khususnya perihal saling mengingatkan sesama teman akan pentingnya mempertahankan ke-Istiqomah-an dalam ibadah. Kami juga bisa bertanya masalah-masalah agama dan mendiskusikan hal itu bersama, saling curhat juga baik masalah di kampus maupun masalah pribadi, Rihlah, Mabit dan makan bersama, dan semua itu lengkap aku dapatkan bersama kelompok ini.

Kami pun diminta untuk melakukan hal yang sama, menjadi Murobbi bagi Mentee (binaan) kami. Kami diharapkan bisa membina lebih banyak agar orang lain juga bisa menjadi lebih baik bersama kami. Kini, aku menjadi Mentor untuk 3 kelompok, dua di Kampus, dan satu lagi di Rohis SMA tempatku dulu.

Sampai saat ini, aku masih dalam tahap belajar membina. Aku pun masih mencari metode-metode yang cocok dalam membina itu seperti apa agar dapat berjalan efektif. Hakikat dari membina pun tidak hanya memberikan ilmu bagi mentee kita, tapi juga kita, me-review kembali materi yang pernah kita dapatkan dulu, sekarang dan sampai akhir nanti.

Tidak terasa perjalanan halaqoh ku sudah hampir 5tahun (2008-2013). Aku berharap, semoga kenikmatan dalam berdakwah ini selalu Alloh berikan kepada kami, khususnya bagiku. Sebuah kenikmatan yang tak bisa digantikan dengan apapun karena disini kami lebih dari teman biasa, karena disini kami adalah keluarga yang disatukan Alloh. Dan kemarin teman halaqoh ku bertambah satu lagi, seorang hafidzhah. J

Tarbiyah memang bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya dimulai dari tarbiyah. Itulah hal yang pernah aku dengar menyangkut tentang uraian pencapaian dalam kehidupan. Tentunya yang dimaksud dengan segala-galanya adalah pencapaian kebenaran dan kebaikan yang istimewa. Dimana setiap orang memiliki impian terutama mencakup kesuksesan di dunia dan di akhirat. Kesuksesan itu tidak mudah diraih begitu saja, maka dimulai dari tarbiyah lah segalanya bisa dicapai. InsyaAlloh...

Maka setiap orang yang pernah, sedang, dan akan terus berada didalam jama'ah pastinya senantiasa berikhtiar mencari dan menghidupkan aktivitas yang sejalan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rosul yang dimulai dari halaqoh-halaqoh. Halaqoh menjadi suatu jaminan bagi seseorang untuk membentuk karakter dan pribadi sebagai insan yang bersalimul aqidah, shahihul ibadah dan seterusnya (karakter muslim).

Kebutuhan tentang halaqoh haruslah sering dipertanyakan dalam diri. Pada fitrahnya, kita memiliki kebutuhan fisik yang bisa dipenuhi dengan substansi yang bersifat material, ruhiyah yang dipenuhi dengan substansi yang tidak hanya melibatkan lima indera, tetapi juga terkait kebutuhan jiwa, dan kebutuhan fikriyah yang bisa terpenuhi dengan penambahan ilmu atau wawasan.

TARBIYAH IS NUMBER ONE!!

---

#tulisan dibuat sekitar 2,5thn yg lalu, tepatnya pd thn 2013

Senin, 08 Februari 2016

Abu Qudamah dan Mujahid Kecil (CoPas)

Kisah Muslim.com – Abu Qudamah, salah seorang panglima kaum muslimin dalam peperangan melawan Romawi berkata,

“Saat peperangan itu saya adalah panglimanya, maka saya menyeru untuk berjihad di jalan Allah. Lantas datanglah seorang perempuan membawa kertas dan bungkusan, lalu saya membuka kertas itu untuk membacanya dan melihat isinya. Ternyata di dalamnya terdapat tulisan:

‘Bismillahirrahmanirrahim.

Dari seorang muslimah umat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada panglima tentara muslim.

Keselamatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga terlimpah kepadamu. Amma ba’du.

Sungguh, engkau telah mengajak kami berjihad di jalan Allah sementara tidak ada kekuatan bagiku untuk berjihad dan tidak ada kemampuan untuk berperang. Di dalam bungkusan ini terdapat jalinan rambutku. Ambillah sebagai pengikat kudamu. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’alamenuliskan untukku sebagian dari pahala orang-orang yang berjihad.

“Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaatas taufik yang diberikan kepada perempuan tersebut. Saya yakin bahwa umat Islam menyadari kewajiban dan berkumpul untuk melawan musuh. Ketika kami menghadapi musuh, saya melihat anak kecil yang bagus bicaranya. Saya mengira bahwa dia tidak ikut perang karena usianya yang masih belia, lalu saya mencegahnya karena kasihan kepadanya. Kontan dia berkata, ‘Bagaimana kamu ini malah menyuruhku pulang padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

“Berangkatlah kamu dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat.” (QS. At-Taubat: 41)

“Akhirnya saya membiarkannya, kemudian dia menghadap kepadaku dan berkata, ‘Pinjamilah aku tiga anak panah,’ dengan perasaan heran bercampur kasihan saya berkata kepadanya, ‘Saya akan meminjami kamu apa yang engkau inginkan dengan syarat; hendaknya engkau memberi syafaat kepadaku jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikanmu mati syahid –saya menduga seperti itu dengan diliputi rasa cinta.’ Dia menjawab, ‘Baiklah, Insya Allah.’ Selanjutnya saya memberikan kepadanya tiga anak panah, kemudian dia menghadapi musuh dengan penuh kekuatan dan semangat yang bergelora.”

“Dia senantiasa mengenai musuh dan musuh mengenai dirinya sehingga dia tersungkur jatuh di medan perang. Mataku tidak pernah terlepas darinya sepanjang peperangan lantara kagum sekaligus kasihan kepadanya, ‘Apakah engkau ingin makan atau minum?’”

“Dia menjawab, ‘Tidak. Sungguh, saya memuji AllahSubhanahu wa Ta’ala atas apa yang telah terjadi pada diriku. Akan tetapi, saya punya keperluan denganmu.’ Saya berkata kepadanya, ‘Tidak ada yang lebih saya sukai dari pada memenuhi keperluanmu itu, wahai anakku! Mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan’.”

“Lantas dia berkata seraya mengeluarkan nafasnya yang suci, ‘Sampaikan salamku untuk ibuku kemudian serahkanlah barang-barangku kepadanya’.”

“Saya bertanya, ‘Siapakah ibumu, wahai anak muda?’ Dia menjawab, ‘Ibuku ialah orang yang memberikan rambutnya kepadamu untuk mengikat kudamu ketika dirinya tidak mampu berperang di jalan Allah’.”

“Saya berkata, ‘Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga’.”

“Kemudian dia pun meninggal dunia. Saya pun melaksanakan apa yang telah menjadi kewajibanku. Ketika saya menguburkannya, tiba-tiba bumi memuntahkannya kembali. Lalu saya menguburnya lagi, ternyata bumi masih juga memuntahkannya. Lantas saya menggali kuburnya lebih dalam, kemudian saya menguburkannya, dan ternyata bumi memuntahkannya untuk kali ketiga.”

“Saya berkata sendiri, ‘Barangkali dia berperang tanpa disertai ridha ibunya.’ Lalu saya melakukan shalat dua rekaat dan berdoa kepada Allah agar mengungkap kepadaku mengenai apa yang terjadi pada anak tersebut.”

“Tiba-tiba saya mendengar seseorang berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Qudamah! Biarkanlah wali Allah itu.’ Akhirnya saya pun membiarkannya beserta segala urusannya. Saya yakin bahwa dia mempunyai kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada seekor burung datang, lalu memakannya. Saya sangat takjub dengan kejadian tersebut. Kemudian saya menuju ke tempat ibunya untuk melaksanakan wasiatnya.”

“Ketika ibunya melihatku, dia berkata, ‘Apa yang mendorongmu datang ke sini wahai Abu Qudamah, apakah engkau datang untuk berbela sungkawa ataukah untuk mengucapkan selamat?’”

“Aku bertanya kepadanya, ‘Apa maksudnya?’”

“Ibunya menjawab, ‘Jika anakku meninggal dunia, berarti engkau datang kepadaku untuk berbela sungkawa. Jika anakku gugur di jalan Allah dan meraih syahid, berarti engkau datang untuk mengucapkan selamat.”

“Lantas saya menceritakan kisah anak kepadanya dan saya ceritakan pula tentang burung dan apa yang dilakukan burung tersebut terhadap anaknya.”

“Ibunya berujar, ‘Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’alatelah mengabulkan doanya.”

“Saya bertanya kepadanya, ‘Apa doanya?’”

“Ibunya menjawab, ‘Sesungguhnya dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam shalat-shalatnya dan kesendiriannya dan membaca doa berikut di pagi dan sore hari, ‘Ya Allah! Kumpulkanlah aku di dalam tembolok burung’.”

“Kemudian saya meninggalkan ibunya dan saya tahu mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan pertolongan pada kami dan mengalahkan musuh-musuh.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1