Kamis, 12 Mei 2016

Wanita Tangguh


Wanita itu mampu bertahan di dalam kelamnya kehidupan,
Padahal sebenarnya ia menangis.
Wanita itu dapat menyembunyikan kesedihannya apabila berada diantara orang-orang terdekatnya,
Padahal ia begitu sangat membutuhkan sebuah kebahagiaan datang padanya.
Wanita itu selalu tampil dengan senyum dan tawanya,
Padahal ia ingin berteriak sekencang-kencanganya.

Ia memang pantas untuk disebut wanita tangguh
Ia yang selalu tampak tegar.
Meski sulitnya kehidupan selalu datang menerpanya.

Ia yang tak pernah berhenti berjalan dan bergerak,
Walau harus terluka oleh ribuan duri yang tajam.
Ia pun tidak pernah kelihatan sedih atau merintih,
Karena ia yakin bahwa Allah akan selalu ada untuk-Nya.

#Dibuat di awal thn 2013 utk mengikuti event menulis puisi di Anisa, alhamdulillah lolos. Hehe. Soalnya sdh sering ikut lomba menulis puisi dan slalu gagal. Dan ini yg pertama lolos :D

Senin, 04 April 2016

A Miracle Of Allah

Namanya Naira Safira. Ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia mempunyai 1 orang kakak perempuan dan 1 orang kakak laki-laki. Naira anak yang periang, cerdas dan selalu optimis dalam melaksanakan apapun termasuk dalam menjalani kehidupannya. Dan namaku Ayunda Saputri. Aku adalah sahabatnya naira dari kecil dan kedua orang tua kami pun sudah sangat kenal dekat. Aku ingin bercerita tentang sahabat ku naira yang berjuang akan penyakitnya hingga sampai saat ini ia pun masih dapat menghirup udara segar dunia ini. Ku ingat saat aku berumur 8 tahun dan begitu juga dengan naira. Ayah berdialog dengan ibu mengenai naira,
“Buk, tadi Bagas menelpon ayah katanya tadi sore menjelang magrib anaknya naira kembali masuk ke rumah sakit.” Ujar ayah.
“Loh kenapa? Sakit apa naira?” tanya ibu pada ayah.
“Ayah juga nggak tahu buk. Tadi bagas hanya bilang kalau naira masuk rumah sakit dan memberi tahu kalau naira di bawa ke rumah sakit Medica. Ayo sekarang kita siap-siap buk dan langsung berangkat ke rumah sakit buk.” Kata ayah pada ibu.
“O iya yah, ibu siap-siap bentar. Tapi yah ayunda gimana, mau di tinggal atau di ajak?”
Tidak lama dari ibu berbicara kepada ayah, dan ayah pun belum sempat menjawabnya. Aku yang dari tadi sudah mendengarkan percakapan mereka lalu langsung beranjak pergi ke ruang tamu, dan berkata “Yah, buk, ayunda ingin ikut jenguk naira.”. Ibu dan ayah langsung saling melihat, lalu ibu bilang pada ku dengan tersenyum“Oya boleh. Ayunda boleh ikut. Ambil jaketnya gih...”. Aku pun langsung ke kamar untuk mengambil jaket agar tidak kedinginan. Dan ayah sudah di garasi untuk memanaskan mobil. Tak lama dari itu kami langsung berangkat menuju rumah sakit.

 1 jam menempuh perjalanan akhirnya kami pun sampai di rumah sakit. Di hantar oleh suster kami ke ruangan naira. Ternyata saat ku lihat itu adalah ruang UGD. Lalu ayah langsung menemui om bagas papanya naira.
“Gas, naira sakit apa?” tanya ayah pada om bagas.
“Tadi sore habis mandi ia terkapar di depan pintu kamar mandi saat mamanya mengecek kamarnya, mamanya kaget dan langsung teriak memanggilku. Naira sempat berbicara katanya kakinya sakit dan terasa sangat sesak nafasnya setelah itu ia pingsan. Jadi langsung saja aku dan mamanya membawanya ke rumah sakit. Ternyata penyakitnya saat masih bayi dulu kembali lagi dit. Jantung lemahnya. Ini dikarenakan aku yang menurunkannya, kamu tahu kan kalau aku sudah ada penyakit jantung ini semenjak SMA baru ketahuan. Dan sekarang menular pada anak ku yang paling bungsu, aku sangat tidak menyangka dit. Karena kedua kakaknya tidak. Naira sekarang yang menderita penyakit jantung lemah.” Om bagas pun sangat terpukul dengan keadaan naira.
“Kamu yang sabar gas. Naira akan sembuh insya Allah...” Ujar ayah sambil memegangi pundaknya om bagas. Om bagas pun menunduk dan menangis.

Memang penyakit jantung lemah merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Setiap orang yang menderita penyakit ini ia tidak dapat melakukan aktivitas secara berlebihan, karena akan dapat menimbulkan rasa sakit di dada serta cenderung pingsan.

“Nai......nai....naira ayo bangun, cepat bangun. Biar kita bisa bermain lagi di taman depan rumahmu.” Aku memangil naira dari jendela kamar, sambil menangis. Aku saat itu hanya dapat melihatnya lewat jendela kamar. Karena aku tidak diizinkan masuk waktu itu oleh susternya.
***
Keesokan harinya saat di sekolah aku merasa kesepian. Karena naira ada di rumah sakit. Teman-teman juga banyak yang menanyakan naira. Karena kelas terasa sangat sunyi saat naira tidak ada. Biasanya ia selalu menjadi pusat perhatian seisi kelas karena sifat riang dan celotehnya yang membuat semua orang jadi merindukannya.
Siang itu sepulang sekolah aku dan beberapa teman kelasku serta wali kelas ku berencana untuk membesuk naira di rumah sakit. Namun saat itu juga ibu ku sudah ada di depan pagar sekolah. Aku diajak ibu dulu ke butiknya. Jadi nanti aaku kan menyusul dengan ibu. Padahal aku sangat ingin langsung melihat naira. Aku pun langsung naik mobil dengan wajah cemberut. “Sayang, tenang saja. Ibu cuma sebentar, setelah itu kita langsung ke rumah sakit menjenguk naira.” Kata ibu sambil me-starter mobil dan langsung tancap gas.
***
Saat tiba di rumah sakit ternyata teman-teman kelas ku dan wali kelas kami baru saja pulang sekitar 20 menit yang lalu kata mamanya naira. Ibu mengobrol dengan mamanya naira, lalu aku memotong pembicaraan mereka. “Tante aku pengen masuk ke dalam mau lihat naira dari dekat, boleh nggak te?” tanya ku pada mamanya naira. Karena aku sangat ingin masuk dari semalam tapi belum diizinkan karena kondisi naira yang masih kritis. “Boleh sayang, ayunda masuk saja. Yuk kita masuk bareng.” Mamanya naira menghantarkan ku ke tempat naira.
“Nai...... kamu kapan bangunnya? Aku kesepian nai di sekolah. Nggak ada teman. Ayo nai kamu cepatan bangun.” Aku memegang tangan naira, tapi tetap saja naira belum juga sadar. Aku pun membawakan naira gambaran ku pas di sekolah tadi, aku menggambar diri naira dan aku yang sedang duduk di taman sambil melihat indahnya pelangi. Lalu ku letakkan ditangan naira. “Yaa Allah tolong sembuhkan naira. Ayunda sangat menyayangi naira. Ayunda pengen lihat senyum naira lagi. Tolong sembuhkan naira ya Allah.” Aku berdoa dalam hati. Kemudian ibu mendekati ku dan mengajakku untuk pulang karena hari pun sudah petang. Aku pun pamit pulang dengan naira. "Nai... aku pulang dulu ya. Aku akan kembali besok.”
***
Setelah 5 hari berada di rumah sakit tepatnya di hari ke-5 itu. Barulah naira siuman dari komanya. Alhamdulillah... Semua yang ada di ruangan itu termasuk aku sangat senang dan tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Allah SWT. “Terimakasih ya Allah...” batinku berkata. Aku langsung mendekat naira, dan naira pun tersenyum melihat gambaran ku yang sekarang ada di tangannya dan ia telah melihatnya. “Aku yakin nai kamu pasti akan sadar, karena Allah sayang denganmu. Dan kamu akan tetap bertahan hidup untuk selamanya. Kan kita sahabat untuk selamanya.” Aku berkata pada naira sambil tersenyum dan memegang tangannya.
***
Dari tahun ke tahun naira menunjukan progress yang sangat baik. Ia semakin sehat dan sudah jarang bolak-balik ke rumah sakit. Semangatnya untuk hidup sangat kuat. Bahkan ia suka mengajakku untul ikut dalam berbagai kegiatan sosial. Naira memang suka membantu sesama. Aku teringat saa SMP dulu. Ada teman yang belum bisa bayar iuran sekolahnya. Tapi, naira punya inisiatif untuk mengajak kami patungan, dan juga membantu si teman tadi untuk bercerita pada wali kelas, alhasil si teman tadi mendapatkan bantuan subsidi dari sekolah sampai kelulusan kelas 3. Itulah yang membuat ku salut pada naira. Namun saat ia menginjak kelas 2 SMP. Om bagas papanya naira meninggal dunia karena penyakit jantungnya yang sudah terlalu akut hingga akhirnya tidak dapat di selamatkan. Sempat naira merasa benar-benar terpukul akan kejadian itu. Namun ia juga sudah dapat mengikhlaskan kepergian papanya setelah 1 bulan berlalu.
***
Ketika pengumuman UN. Aku dan naira lulus dan dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan saat masuk SMA, kami berdua tidak lagi mengikuti tes masuk seperti siswa/i yang lainnya. Kami lulus tes jalur PMDK. Jadi tidak perlu untuk tes lagi. Sungguh kami sangat senang sekali dapat bertemu lagi sampai ke jenjang SMA.
Hari demi hari pun kami lalui di sekolah kami yang baru. Seragam sekolah yang baru. Dan pastinya teman-teman yang baru pula. Saat di SMA naira benar-benar sangat membaik, bahkan ia pun sudah jarang mengkonsumsi obatan-obatan yang biasanya ia minum. Saat ku tanya “nai, kamu nggak lagi minum obatnya ya? Koq sudah 2 hari ini aku nggak lihat kamu meminumnya saat jam istirahat.” Tanyaku heran padanya. “Hehe... iya ay aku nggak lagi meminumnya. Aku juga sudah capek terus-terusan minum butiran-butiran pil itu. Aku pengen sembuh secara alami tanpa harus ada obat-obatan dan rumah sakit.” Dengan enteng dan tersenyum ia menjawab. “Tapi nai.........”, belum sempat aku melanjutkan kalimatku, naira langsung memotongnya. “Heee. Aku tahu ay apa yang ingin kamu katakan. Tenang saja, insya Allah aku baik koq, kamu doain aku terus ya, semoga tetap selalu sehat, kan kata mu sendiri waktu 7 tahun yang lalu saat aku terbaring dirumah sakit. Bahwa kita akan selalu terus bersama karena kita adalah sahabat untuk selamanya... Iya kan ay?” Ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat alisnya sebelah kanan, sembari merangkul pundak ku.
***
Naira tetap pada sikap cerianya, ramah dan selalu tersenyum. Penyakit jantungnya yang lemah itu sepertinya sudah benar-benar menghilang dari dirinya. Ia benar-benar bangkit dari masa-masa terpuruknya dulu, yang sempat di vonis oleh dokter kalau hidupnya hanya akan bertahan sebentar. Namun dengan tekadnya yang selalu berusaha untuk membuat dirinya sehat selalu. Mungkin inilah yang disebut dengan A Miracle Of Allah. Sebuah keajaiban yang berasal dari Allah SWT. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sekarang ia sangat menikmati hidupnya dan selalu membuat mama dan kakak-kakaknya bangga akan prestasi yang di tonjolkannya. Ia juga pernah mendapatkan beasiswa S2 di Malaysia. Sekarang ia menjadi salah satu dosen di UI tepat kami kuliah dulu, dan juga sekarang ia lagi tahap penyelesaian gelar doktornya di Universitas Surabaya. Naira yang ku kenal dari dulu sampai sekarang adalah sosok yang mempunyai sikap optimis. Aku pun sangat senang sekali menjadi sahabatnya dan ia juga telah memberikan ku banyak pelajaran tentang bagaimana menjalankan hidup dengan semestinya. Ia pun menjadi inspirasi bagi ku sampai kapanpun. J


#tulisan dibuat awal thn ini (2016), diikut sertakan dlm event antologi BML


Membangun CINTA Suci Ba’da Ijab Kabul 

(dibuat utk ikut event di gema sastra)

:ngakaksss😆😅

---


#tolong jgn hakimin gue gaesss dgn judul yg tertera. Gue juga heran knp gue bisa nulis kayak ginian, gue saja shocked saat buka note thn 2012 lalu. Dan yg gue nggak nyangka lagi, ni tulisan di loloskan... Mohon maaf lahir batin gaesss, kalau ada persamaan nama tokoh dan alur ceritanya, ini hanya fiktif belaka ✌


Tolonggg!!! Jangan Panggil Aku Ukhti

(dibuat untuk mengikuti event antologi GPS)

Semua berawal dari kisahku. Pertama kali aku mendapatkan panggilan ukhti itu dari dunia maya yang tidak lain dan tidak bukan yaitu fesbuk. Kemudian berlanjut ketika diperkuliahan. Hhmmm maklum, tempat kuliah ku itu memang tempat kuliah yang notabennya bergenre kan Islam. Jadi panggilan ukhti itu sudah menjadi panggilan yang tidak asing lagi. Terlebih lagi ketika aku ikut di organisasi yang orang-orangnya memang dapat dikatakan akhwat-akhwat dan ikhwan-ikhwan betolll.

Ya, mungkin memang benar. Ukhti adalah sebutan untuk saudara perempuan muslim (baca: muslimah). Tapi tetap saja aku tidak ingin dipanggil ukhti. Karena, aku merasa bahwa sebutan ukhti ataupun akhwat itu hanya pantas sebutan bagi wanita-wanita yang ilmu agamanya mahir. Atau kurang lebih wanita yang seperti itu lah yang di sebut akhwat. Yang tertanam didalam benakku gambaran seorang akhwat atau ukhti itu adalah wanita yang memakai pakaian tidak ketat atau membentuk tubuh. Pakai rok panjang, no jeans. Jilbab panjang dan tidak dibentuk-bentuk serta tidak tipis. Selalu memakai kaos kaki. Tidak bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya apalagi berbocengan diatas motor. Tidak mengenal yang namanya pacaran. Selalu datang ke masjid. Selalu membawa al quran didalam tasnya. Ketika bertemu orang mengucap salam. Kalau bertemu dengan sesama saudara muslimahnya selalu cipika cipiki. Sholat tepat waktu. Tilawah, dan sebagainya.

Sangat berbeda denganku pada waktu itu. Aku memang telah memakai jilbab namun jilbabku tidak lebar apalagi tebal, masih suka memakai jeans karena saat itu yang ku punya hanya rok sekolah, terkadang masih suka tidak memakai kaos kaki, sholat ku pun masih suka bolong-bolong dan setiap kali diajak untuk sholat berjam’ah pasti ada-ada saja alasan yang ku lontarkan. Aku juga jarang membaca al quran, bahkan untuk menyentuhnya pun aku sangat jarang pada waktu itu. Ketika masih SMA dulu aku juga sering bolos dalam program mentoring yang seharusnya wajib hadir disetiap hari jum’at sepulang sekolah. Kalaupun aku datang, biasanya aku juga tidur-tiduran, atau membuat kondisi mentoring mejadi tidak seperti seharusnya.

Satu-satunya wanita atau akhwat yang belum memakai jilbab dalam organisasi ROHIS (Kerohanian Islam) pada saat di sekolah dulu, hanya aku seorang. Sampai-sampai Bapak guru yang mengajar pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang juga menjadi pembina rohis kami saat itu, serta teman-temanku juga bahkan yang laki-lakinya, selalu membujukku agar aku memakai jilbab dengan perkataan-perkataan mereka salah satunya seperti ini, “Yen,,, kapan ingin hijrah??? Tinggal dirimu sendiri yang belum memakai jilbab”. Wajah ini pun langsung berubah dikarenakan rasa malu.
Namun, tetap saja walaupun sudah di rayu-rayu, hatiku belum tergerak untuk memakai jilbab pada saat itu. Apalagi ketika aku melihat fenomena yang datangnya dari teman-temanku dan adik-adik kelas ku. Mereka ketika disekolah berjilbab rapi, dan ketika sepulang sekolah bahkan ada yang masih didepan gerbang sekolah jilbab itu mereka lepaskan. Ada juga yang memakai pakaian tidak sepantasnya ketika keluar rumah.

Dan sampai pada suatu ketika aku mulai siap untuk memakai jilbab. Aku mulai mengenakan jilbab itu dikelas 3 SMA semester 1, tepatnya seusai ramadhan. Mungkin memang benar semua itu butuh proses dan aku sangat sepakat akan hal itu. Yang pasti aku berjilbab bukan karena bujukan-bujukan dari orang lain. Tapi itu sungguh dari hati dan niat karena Allah SWT. Meskipun jilbabnya belum sempurna, dan syar’i.

Aku sadar bahwa aku ini telah banyak sekali melakukan kesalahan. Aku sering sekali melakukan hal-hal yang semestinya tidak dilakukan oleh para muslimah pada umunya. Seperti bermain bola misalnya. Aku tidak tahu kapan aku ini dapat sadar hingga panggilan ukhti itu memang sungguh-sungguh melekat dan memang aku pantas disebut ukhti. Ahh namun semua itu kembali lagi kepadaku.
Aku berharap semoga Allah dapat secepatnya mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepadaku. Namun aku tidak akan berdiam diri untuk menuggu datangnya hidayah dari Allah itu. Aku akan mengambilnya dari Allah. Semua harus ku lakukan dimulai dari diriku sendiri. Karena didalam firman-Nya pun Allah pun juga telah mengatakan bahwa Allah tidak akan pernah mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak ada usaha untuk merubahnya.

Ingin sekali rasanya aku mengatakan kepada mereka agar tidak memanggil ku “Ukhti”, karena aku memang sangat merasa belum pantas untuk dipanggil dengan sebutan yang sedemikian mulia itu. Aku pun selalu seperti disadarkan bahwa aku terlalu banyak dosa, jika mengingat image seorang ukhti yang sesungguhnya...
---

#tulisan di buat pd thn 2011 untuk di ikutkan di event antologi GPS "first writing"

Minggu, 03 April 2016

Wanita Tangguh Itu Bernama Mbak Wita

 (dibuat untuk mengikuti event antologi di ANNISA)


Semilir hembusan angin mengiringi langkahku ketika akan berangkat menuju kampus. Pagi itu suasana memang sangat dingin. Seperti biasa aku selalu diantar oleh Ayah ku sampai terminal bis. Sesampai diterminal, ku lihat sudah banyak orang-orang yang menunggu disana dan kami pun berdiri hingga bisnya datang. Sesaat kemudian, tidak tahu kenapa mataku disilaukan dengan pandangan mengarah pada sosok wanita. Wanita itu menggunakan tongkat. Aku ingin menyapanya namun aku ragu.
Tidak lama kemudian bis yang ditunggu-tunggu pun tiba dan kami langsung naik dengan satu per satu. Kembali mataku memandang pada sosok wanita itu lagi, ku pandangi gerak-geriknya. Aku menantikan dimana wanita itu akan singgah. Ternyata ia turun sama seperti ku. Namun ia naik tangga penyeberangan didepan kampusku. Aku berharap esok dapat bertemu lagi dengannya dan akan ku sapa ia jika bertemu lagi.
*******
Keesokan harinya, tenyata Allah mengabulkan doaku. Ya aku bertemu lagi dengan wanita tersebut. Ketika aku lagi mencari tempat duduk yang kosong. Eh wanita itu mempersilahkan aku untuk duduk disampingnya. kemudian akupun duduk. Tidak lama kemudian aku mengawali percakapan dengan gaya sok kenal sok dekat. Hhehe. “Nama mbak siapa?” tanyaku.
“Wita”, jawabnya sambil tersenyum. Dan ia pun menanyakan nama ku, “kalau kamu?”.
“Yeni”, jawabku sambil membalas senyuman manisnya.
Sepanjang pejalanan kami bercerita. Lalu aku bertanya kepadanya mengapa kemarin ia turun didekat kampusku. “Mbak, kemarin aku melihat mbak turun didekat kampus IAIN Raden Fatah Palembang, tapi mbak nyebrang. Itu mbak mau kemana?”
Dijawabnya, “Ooh itu yeni, aku kerja jadi guru jahit”.
Didalam hati aku tak henti-hentinya mengucapakan pujian kepada Sang Pencipta. masyaAllah, walaupun keadaan mbak Wita yang kekurangan pada fisiknya dapat mempunyai keahlian yang luar biasa. Aku jadi minder rasanya, punya fisik yang masih lengkap namun keahlian aku tidak punya.

Waktu terasa begitu panjang. Kami pun terus bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing. Padahal kami baru saja kenal, namun kami terasa sudah sangat lama kenal. Mbak wita bercerita tentang hidupnya dan aku menjadi pendengar yang baik baginya. Ternyata mbak Wita itu merantau datang ke kota Palembang ini. Kota asal mbak Wita ada di Malang. Kemudian aku bertanya lagi padanya, “kenapa mbak bisa ada di Palembang?”, dan jawabannya sangat meghenyahkan hati dan juga membuatku terharu sampai mengeluarkan air mata. “Aku berada dipalembang ini karena aku masing berharap dapat bertemu dengan anakku”, ujarnya.
“loh emang anak mbak dimana?”, tanyaku kembali.
“Anakku dibawa pergi oleh suamiku, yeni. Dan aku akan berusaha untuk dapat menemukannya, itu sebabnya aku merantau kesini”.
Sangat luar biasa perjuangan mbak Wita dalam pencariannya untuk menemukan buah hatinya yang dibawa pergi oleh suaminya. Dan ternyata dapat kabar bahwa suaminya itu telah menikah lagi dengan perempuan lain tanpa terlebih dahulu menceraikan mbak Wita. Namun mbak Wita telah mengikhlaskannya. Mbak Wita tidak ambil pusing. Ia terus berkerja sebagai guru jahit profesi yang telah ia tekuni semenjak merantau ke kota Palembang ini. Walaupun ia tinggal sebatang kara dikota orang, tapi ia tetap optimis dan yakin bahwa Allah akan tetap mengiringi setiap langkah-langkahnnya. Ia tidak ingin menyusahkan orang lain. Baginya fisik boleh kurang, namun mental tidak. Itulah mbak Wita yang super duper tangguh.
*******

#dibuat diawal thn 2013

Aku dan Shino itu SATU :P


Assalamualaikum saudara's :D
Aku pengin cerita dikit. dikit cerita.

Saudara's tahu Aburame Shino kan? Ya betul,,, shino adalah salah satu tokoh kartun ninja yang ada dalam film NARUTO.

Sejak shino muncul di film naruto saat itu, aku sudah sangat menyukai shino dibanding tokoh-tokoh ninja yang lainnya. Walaupun 2 tokohnya lagi yaitu gaara dan naruto, aku juga suka. Tapi tetap posisi shino yang menjadi numero uno (hehe, nyepanyol dikit gaesss).Karena aku merasa banyak kemiripan antara perjalanan hidupku dengan perjalanan hidupnya shino. Ahihi :p *nyengir*

Aburame Shino adalah orang yang tenang, penyendiri, dan cukup misterius (nah ini loh kesamaan kami yang pertama) *yg nggak setuju silahkan loncat dari ampera ke sungai musi :P :D. Dia digambarkan sebagai suatu tipe orang antara sabar dan berbelit-belit (kesamaan kami yang kedua) :D. Ia jarang tersenyum ataupun menunjukkan emosi sama sekali (kesamaan kami yang ketiga) *pasti banyak yg nggak sepakat akan hal ini...:P bodo :D. Bukannya berterima kasih pada rekan satu timnya yg memberi selamat kepadanya atas kemenangan dalam pertarungan, ia malah mengatakan kepada mereka bahwa ia berharap mereka melakukan hal yang sama (kerendahan hatinya ini yang membuatku salut dan kagum ^_^). Dia juga memiliki kecenderungan menyimpan dendam dan menjadi agak menakutkan (dan yang ini bukan termasuk kesamaan kami) :D,,, seperti terlihat ketika Naruto tidak mengenalinya pada awal Bagian II (itu sebenarnya karena satu-satunya bagian yang terlihat dari wajahnya adalah kacamata hitamnya), tetapi naruto mudah mengenali Kiba dan Hinata. Dan dia masih menyimpan dendam sampai hari ini. :O
Shino dapat memahami rekan satu timnya (Kesamaan kami yang keempat) :D. Contohnya saja ketika berdebat dengan Kiba. Dia lebih dulu bersikap diam.

Shino memiliki hubungan yang sangat kuat dengan rekan satu timnya dan teman2nya.

Ia sangat menyesal karena tidak ikut dalam misi pengejaran sasuke. Dari waktu itu dan seterusnya, ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Kiba dan Hinata. Dia bahkan membantu Hinata untuk meningkatkan kemampuannya, dan merupakan salah satu dari sedikit orang, selain Naruto, yang secara terbuka mengakui kepercayaan diri dalam dirinya. Buah dari usahanya terlihat di anime, di mana Shino mampu menjalankan misi dengan sukses sementara menjaga orang lain agar tetap aman (terus berusaha dan tidak cepat putus asa adalah kesamaan kami yang kelima) :D.

Shino berbicara seolah ingin tahu, seperti yang dinyatakan oleh Naruto dan Kiba. Dia berbicara dengan cara yang paling sederhana digambarkan dengan "berbelit-belit" dan menggunakan banyak kata 'karena' (nah kalau aku suka "pada dasarnya") :D

Untuk orang lain, sikapnya berbicara seperti lebih perhatian dengan poin sepele yang dapat terucapkan atau menyediakan informasi yang cukup untuk meninggalkan pertanyaan yang mungkin bisa bertanya, sudah terjawab. Contohnya meliputi: Dalam percakapannya dengan Kiba, "Bagaimana misimu... Aku akan mendengarkan."

Sebagai anggota clan Aburame, Shino mahir sejak lahir dengan jenis serangga khusus, yang disebut kikaichu, yang memakan chakra. Serangga itu bebas untuk hidup di dalam tubuh pengguna, mereka makan chakra untuk bertahan hidup, dan sebagai imbalannya, mereka menyerang lawan dan melakukan tugas-tugas lain saat diperintahkan, simbiosis inilah gaya bertarung Shino, ia akan menyerang lawan dan ketika mereka tak bisa kabur Shino akan menyerap chakra lawannya untuk kikaichunya.

Shino telah menemukan beberapa manfaat lain untuk serangganya itu (kikaichu), dan dengan demikian telah menemukan sejumlah teknik yang memanfaatkan mereka untuk berbagai tujuan. Teknik pertama adalah mushibunshin no jutsu miliknya, yang menggunakan serangganya untuk membuat bunshin dirinya sendiri. Dia juga mampu membungkus musuh-musuhnya dalam bola serangga dengan Hijutsu: Mushidama, teknik ini mencegah mereka bergerak dan merebut chakra mereka. Shino juga dapat menggunakan serangga untuk memata-matai dan mengumpulkan informasi. Seekor serangga betina dibiarkan pada sasaran, yang kemudian dapat dilacak dgn aroma oleh serangga jantan, atau serangga penjelajah dapat dikirim keluar dan kembali untuk memberitahu informasi tentang suatu daerah. Shino dapat berkomunikasi dengan serangga, membuat Shino sangat mahir dalam mata-mata.

Dalam pertarungan, Shino mampu menggunakan kecerdasannya (gantengkan shino :3) #ehhh, ia mampu menggunakan keterampilan analitis dan pengamatan untuk membuat strategi. Seperti Shikamaru Nara, Shino berada di jarak yg jauh dgn musuh untuk membuat strategi sekaligus menghindari serangan. Karena itu, Shino cukup percaya diri dalam kemampuannya dan bahwa ia akan memenangkan pertempuran. Namun, Shino sangat menikmati pertarungan, dan tidak suka menolak kesempatan untuk melawan lawan yang terampil, seperti yang terlihat saat invasi Konoha ia tetap mencoba melawan Kankuro, walaupun sebenarnya pertandingan dibatalkan untuk menghindari pengungkapan boneka rahasianya. Shino juga bisa mengerti ada berapa orang di suatu daerah dengan meletakkan telinganya ke tanah. Dalam anime, Shino juga meningkatkan keterampilan taijutsunya selama lompatan waktu untuk lebih menangani situasi pertempuran jarak dekat. Dia telah menciptakan Tetsuzanko, yang merupakan taijutsu kerjasama dengan bunshin untuk mengatasi lawan dari kedua sisi (nah shino tambah ganteng.ganteng.ganteng *diulang 3x biar agak dramatis) wkkk :p
Aburame Shino bukanlah seorang anak lelaki biasa, tetapi sayangnya tidak semua orang bisa mengerti hal itu.
Sama sepertiku. Aku adalah wanita biasa, yang semua orangpun sudah mengerti akan hal itu (Eh itu bukannya sama, tapi kebalikkannya yen...) hehe. Iya Yang ini jelas beda. Shino laki2 aku wanita, shino punya serangga, aku tidak, shino ada di DuFil (dunia film), aku di DuNyat (dunia nyata). Tapi tidak masalah, yang pasti kesamaanku dengannya yang lebih banyak. Aburame Yen :v

Nah saudara's cerita dikit. Dikit cerita dari ku sudah selesai...

*horrreee*

*tepok kakiii*

*lariiiiiiiiiiiiiii*

Wassalamualaikum

"Selemah apapun musuhku, aku tidak akan meremehkan mereka."
(Aburame Shino)









---

#tulisan di buat di tahun 2011 (Aku menulis ini benar2 dlm keadaan sadar gaesss, bukan lagi tiduran di rel kereta. Haaa)

" Wahai Matahari" (dibuat untuk memenuhi tugas dari FORUM LINGKAR PENA)


Saat pagi datang...
Ketika ku dengar kicau burung yang indah

Dan matahari pun telah tampak menyinari alam raya

Telah membuat jiwa ini menjadi tentram dan pikiran pun menjadi terang

Tanpa matahari pagi ini bumi akan gelap

Tanpa matahari juga bumi ini pasti akan membeku

Wahai matahari... Sinarmu memberikan semangat untuk hidupku

Matahari sungguh aku mengagumimu

Karena hadirnya dirimu

Adalah bukti kehebatan dari Tuhan ku

Memang tidak ada yang dapat menandingi kehebat-Nya

Aku inigin sepertimu wahai matahari

Bentukmu nan bulat begitu sempurna

Seperti sinarmu yang kau berikan secara total kepada kami

Wahai matahari... Jadilah penyempurna sujudku untuk-Nya

Aku sangat membutuhkanmu untuk selalu berada disisi ku...


Palembang, 03 Maret 2013
YH ^_^